BELAJAR "ABCD" DI KOPKUN INSTITUTE

Belajar di Kopkun Institute  
ABCD (Asset Based Community Development)

A. Prolog

Siang menjelang sore menjadi sesuatu yang inspiratif setelah menggabungkan diri dalam peningkatan kapasitas pejuang pemberdayaan yang dilakukan oleh Kopkun Institute. Berttindak sebagai narasumber kali ini adalah tokoh muda  koperasi, Om Firdaus. Direktur Kopkun Institute ini menjelaskan tentang pola pendekatan ABCD (Asset Based Community Development). Sebuah presentasi yang sangat keren dan mudah difahami. Dibarisan peserta adalah para pejuang pemberdaya antara lain : om Herry Kristanto, Om Sarwono, Om Agung, Om Angjar, On Joen,  Tante Anis dan tak ketinggalan Tante Novi sang dosen muda yang begitu getol dalam urusan pemberdayaan. Pada ruang hebat ini kemudian ketua Dekopinda Banyumas menjeburkan diri dalam satu niat, memperluas ilmu pengetahuan dan sekaligus mencari inspirasi untuk memperkaya kreasi-kreasi kemasyarakatan.

B. Proses Pembelajaran
ABCD merupakan satu pola pendekatan yang  mengembangkan paradigma gelas setengah isi. Artinya ada potensi yang mungkin didorong atau ditumbuhkembangkan. Pendekatan ini menggeser paradigma pesimistik yang memandang gelas kosong menjadi paradigma optimisitik dimana gelas diasumsikan setengah isi. Sebagai eksternal yang berniat  melakukan pemberdayaan, cara pandang ini menjadikan rendah hati dan mengapresiasi setiap potensi yang melekat pada obyek yang sudah ada sebelum ragam program pemberdayaan dilakukan.  Metode ini berfokus pada pemberdayaan sumberdaya manusia(SDM) sebagai aset yang paling penting dalam membangun komunitas. Aset SDM dalam metode ABCD adalah aktor-aktor lokal yang ada di komunitas, kelak mereka akan menjadi aktor-aktor kunci untuk membuat perubahan. 

Pendekatan ABCD in penting sebagai model dalam program-program  pemberdayaan masyarakat. Kalau Pra-ABCD lebih mengedepankan subyek dan obyek melalui aplikasi metode yang sudah diformulakan oleh subyek, pendekatan ABCD mengedepankan pola subyek dan subyek , sehingga semua orang sama-sama belajar mengembangkan. ABCD Fokus pada kekuatan dan aset, bukan pada masalah dan kebutuhan. Dirancang untuk merangsang pengorganisasian komunitas serta mengaitkan dan mengungkit dukugan dari
institusi luar. Metode, tingkah laku, sikap dan alat bantu untuk mengisentifikasi asset, kekuatan dan peluang, bukan pemetaan tetapi pengorganisasian, mengurangi fokus pada riset dna lebih fokus pada aksi, (metode dapat dimulai dari riset yang diaplikasikan ke dalam aksi atau yang dikenal dengan action research, output bukan hanya data riset tapi aksi yang membuat perubahan)  Penggunaan metode ABCD cenderung lebih membahagiakan karena yang didorong adalah potensi yang melekat pada mereka. Mereka pun terhindar dari stress karena tidak ada pendekatan mempersalahkan. Pada pola ABCD, maka pihak luar adalah bertindak sebagai katalis (mempercepat). Dalam pola ABCD menggunakan pendekatan apresiatif dan bukan pendekatan berbeasis masalah (menggunakan pendekatan berbasis masalah dengan metode apresiatif, mengapresiasi kearifan lokal termasuk aktor-aktornya, sistemnya dll) . Lewat ABCD, masyarakat di cerdaskan sehingga berkemampuan menyelesaikan persoalan yang membelitnya. Masyarakat akan menjadi lebih
kreatif (percaya diri) dan kompeten. Dengan kata lain, pada pendekatan ABCD yang

Ada beberapa elemen kunci pada pendekatan ABCD :
  1. Fokus pada mengamati sukses dimasa lampau
  2. Setiap orang memuuskan apa yang diinginkan
  3. Menemukenali aset yang tersedia secara koprehensif dan partisipatif.
  4. Mengapresiasi aset yang paling bermanfaat pada saat itu.
  5. Rencana aksi didasarkan pada mobilisasi aset yang ada semaksimal mungkin.
  6. Membebaskan energi dan kewenangan setiap aktor untuk bertindak dengan ragam cara.
  7. Saling berkontribusi dan bertanggungjawab untuk mencapai sukses.

3 (tiga) hal yang bisa menjadi daya ungkit dalam pendekatan ABCD, yaitu :
  1. Energi Masa Lampau. Menemukan apa yang telah membuat individu, kelompok atau organisasi sukses dimasa lampau.
  2. Daya Tarik Masa Depan. Pembuatan dan komitmen terhadap visi masa depan yang disepakati bersama
  3. Persuasi Masa Kini. Ini adalah satu “pembentukan ulang” situasi masa kini secara, dari gambaran yang defisit menjadi gambaran berkelimbahan.
 Esensi dari ABCD  adalah :
  1. Pembangunan aset. Memperkuat aset yang sudah ada dan memperluas asset tersebut
  2. Mobilisasi asset. Menyusun, menyiapkan dan mengorganisasikan aset dan siap menggunakannya untuk ketahanan penghidupan jangka panjang
  3. Berbasis asset. Menghargai dan mengembangkan aset organisasi atau komunitas
 Prinsip AI :
  1. Kata mencipta dunia-kita mulai menciptakan masa depan lewat cara kita membicarakannya.
  2. Pertanyaan mencipta perubahan-kita memulai proses perubahan saat kita mengajukan pertanyaan.
  3. gambar menginspirasi tindakan-gambar yang kita miliki tentang masa depan mempengaruhi tindakan yang kita ambil
  4. pertanyaan positif akan mengarah ke perubahan positif-jika kita menginginkan masa depan yang berbeda, maka kita perlu mengajukan pertanyaan yang sesuai dengan masa depan itu.

Dipenghujung Ada 2 (dua) kalimat inspiratif, yaitu; (1). Kenegatifan Berpandangan. Kalau kenegatifan selalu tentang menjadi aman atau menjaga agar tetap hidup dan menghindari kematian (bertahan hidup) dan; (2) Kepositifan Berpandangan. Kepositifan adalah melebarkan batas berkembang dan tumbuh lebih sehat (berkembang).


Kita berdua berlajar bahwa cara tercepat untuk melemahkan suatu komunitas adalah dengan memperkenalkan tentang pekerja sosial dan pengacara”, jody Kretzmann, tentang dirinya dan rekannya John McKnight, Aapril 2002.  Kutipan statemen ini sangat inspiratif dan sungguh meng-energi. 
Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment