HARAPAN BARU BAGI RITEL KOPERASI DI JAWA TENGAH

FINALISASI KONSEP RITEL KERAKYATAN
(Kemitraan Yayasan Damandiri dan Gerakan Koperasi
Di Propinsi Jawa Tengah)

A.  Pengantar

Semarang (03-10-2016). Hari ini, di Kantor Dinkop & UMKM Prop.Jawa Tengah  lanjutan pembahasan konsep pengembangan ritel koperasi kembali di gelar. Kalau beberapa waktu lalu baru tahap sosialisasi dan warming-up, kali ini fokus pertemuan pada proses matching antara konsep yang sudah disusun oleh Tim Jawa Tengah dengan visi dari program yang dikembangkan Yayasan Damandiri. Bahkan direncanakan pada hari ini akan dilakukan MoU antara Akrindo Jawa Tengah dan Yayasan Damandiri. Dalam agenda ini, beberapa koperasi-koperasi yang unggul dalam bidang retail di wilayah Jawa Tengah di hadirkan oleh Dispeindagkop & UMKM Jawa Tengah.  Juga hadir Ketua Dekopinwil Jawa Tengah, beberapa Pimpinan Dekopinda di lingkungan Jawa Tengah, Akrindo dan Perwakilan Yayasan Damandiri.  Dari Yayasan Mandiri hadir 4 (empat) orang perwakilannya, antara lain Pak Tomi, Pak Fajar  dan Pak Firdaus.    

 “Saatnya koperasi ritel didorong untuk lebih berkembang”, demikian inti sambutan dari Pak Bima Kartika, Kabid Koperasi Disperindagkop & UMKM Prop Jawa Tengah.
Semoga ada realisasi segera sehingga koperasi yang bergerak di sektor retail bisa lebih kencang dalam berlarinnya”, ungkap Pak Warsono, Ketua Dekopinwil Jawa Tengah. Selaku Dekopindwil, kami akan ikut memantau dan mendampingi jalannya program ini sehingga bila terdapat hambatan dilapangan akan tertemukan solusi dalam waktu cepat.

B.  Presentasi Tim Pengembangan Ritel Propinsi Jateng
Tim Jateng memberi judul konsepnya dengan “Pengembangan Ritel Kerakyatan” dengan taglineFrom Jateng For Indonesia”.  DR Walid, selaku ketua DPW Akrindo (Assosiasi Koperasi Ritel Indonesia) Jawa Tengah, menyampaikan bahwa konsep yang diajukan oleh Tim Jateng berbentuk fasilitasi modal pendampingan dengan suku bunga yang lunak denga gress periode 3 (tiga) tahun. DR Walid juga menyampaikan bahwa misi Yayasan Damandiri  adalah Bagaimana menghidupkan kembali ekonomi kerakyatan” .  Oleh karena itu, koperasi-koperasi yang difasilitasi diharapkan bisa menjadi pusat kulakan bagi koperasi-koperasi lainnya di wilayahnya masing-masing.

Berkaitan dengan rencana fasilitasi ini, maka realitas obyek yang akan analisa terlebih dahulu yang antara lain meliputi :    
1.      analisis situasi manajemen retail kerakyatan
2.      analisa sistuasi mitra
3.      analisa situasi kondisi retail
4.      analisa mengenai ritel modern dan tradisional
5.      analisa situasi dampak usaha ritel modern
6.      analisa  situasi statistika pengembangan ritel
7.      analisa situasi sistem pembayaran kasir ritel modern
8.      analisa sitausi pemasaran, promosi dan manajemen pemasaran ritel kerakyatan
9.      analisa situasi pengendalian biaya ritel kerakyatan

Untuk memperoleh  data lapangan guna pemetaan obyektif, visitasi (kunjungan)  akan dilakukan oleh tim. 


C.  Sekilas Tentang Yayasan Damandiri dan Visi Besarnya
Yayasan ini didirikan tahun 1996 oleh Bapak Soeharto (Presiden Indonesia Ke-2)  dengan tujuan membantu masyarakat yang belum sejahtera menjadi sejahtera.Angka kemiskinan saat ini menjadi inspirasi Damandiri untuk bergerak dan melakukan sesuatu yang bisa membangun kembali harapan mereka tentang masa depan. Salah satu yang menjadi perhatian Damandiri adalah matinya warung-warung kecil sebagai akibat langsung dari perkembangan retail modern sampai ke pojok-pojok kampung. Akibatnya,  mereka kehilangan mata pencarian dan terjebak dalam kemiskinan dan hidup yang jauh dari layak. Atas hal ini, Yayasan Damandiri mencoba memberdayakan kembali  warung-warung rakyat melalui kemitraan dengan
koperasi-koperasi  di Indonesia. Pemilihan koperasi didasarkan pada pandangan bahwa koperasi adalah simpul masyarakat dan juga memiliki pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat di kesehariannya. Sebagai awalan, Propinsi Jawa Tengah di pilih sebagai pilot project atas program ini. Untuk efektivitas program,  metode yang dipilih Damandiri adalah botttom up sehingga lebih mencerminkan realitas, keresahan dan peta kebutuhan.     

Dalam sambutannya, salah satu delegasi Damandiri menyimpulkan bahwa Pemasaran dan permodalan adalah 2 (dua) hal yang selalu menjadi kendala masyarakat dalan ber-usaha. Sementara itu, saat masyarakat ingin meng-akses modalnya kemudian terkendala pada collateral. Atas hal itu, Yayasan Damandiri ingin menyentuh kelompok masyarakat yang belum bisa meng-akses modal kepada bank dan lembaga keuangan lainnya. Bahkan, untuk mendukung akselerasi pertumbuhan usaha rakyat, pinjaman yang diberikan juga dilengkapi fasilitasi gress period. Namun demikian, Damandiri bukanlah lembaga chariti/karitas dan fasilitas pinjaman yang diberikan harus dikelola dengan baik sehingga penggguna memiliki kemampuan mengembalikan. Dengan disiplin yang demikian, maka Damandiri akan semakin berkemampuan menjangkau masyarakat yang lebih luas (revolving fund model).  Pak Tommy juga menyemangati, “koperasi harus bergerak bersama sehingga memiliki bargainning position yang bagus dimata para prinsipal. Bila hal ini terwujud, maka peluang koperasi berkembang menjadi lebih terbuka baik dikarenakan oleh efiseisni operasional maupun perolehan harga barang yang lebih murah”.



Hasil pertemuan ini berujung dengan 2 (dua) MoU, yaitu : (1) MoU antara Yayasan Damandiri dengan Disperindagkop Jawa Tengah dan; (2) MoU antara Damandiri dan Akrindo Jawa Tengah.  Harapan untuk akselerasi retail bisnis koperasi pun bermula..............
Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Pengembangan kemasyarakatan
    Silahkan kunjungin web kami http://www.lpug.gunadarma.ac.id/ kami menyediakan beberapa artikel mengenai lembaga pengembangan.

    ReplyDelete