MEMBANGUN KOPERASI MODERN & SEHAT

MEMBANGUN KOPERASI MODERN & SEHAT
“Meng-anggota dan Men-Sejahterakan”

dipresentasikan oleh : H.Kuswandi Kasi Koperasi Diseprindagkop Kab Banyumas, 19 Nopember 2016

A. Pengantar
Koperasi adalah perusahaan yang unik,  disatu sisi sebagai kumpulan orang dan disisi lain sebagai perusahaan. Namun demikian, pada keunikan inilah letak pembeda dan sekaligus sumber keunggulan dibanding jenis usaha lainnya. Oleh karena itu, dalam mengelola organisasi dan perusahaannya, koperasi harus terus melakukan pencarian gagasan inovasi teknis sehingga menemukan titik efektivitasnya.

Sebagai kumpulan orang, koperasi concern membangun semua orang yang terlibat dalam koperasi melalui penyelenggaraan pendidikan yang bertahap dan berkesinambungan. Efektivitas pendidikan tersebut selanjutnya akan membentuk kecerdasan aspirasi dalam melahirkan aktivitas-aktivitas produktif yang ternaung dalam perusahaan koperasi. Dengan kata lain, lahirnya aktivitas-aktivitas produktif koperasi dalam wujud ragam layanan merupakan imbas dari peningkatan kapasitas anggota. Nalar ini pula yang membuat perusahaan koperasi kokoh dan sulit mati, karena setiap kelahiran unit layanan dibarengi dengan komitmen anggota untuk mengembangkan partisipasinya secara optimal.  Artinya, perusahaan koperasi senantiasa memiliki konsumen loyal bernama anggota yang tidak saja menjadi pangsa “pasar tertutup”  atau “captive market”, tetapi juga mengambil tanggungjawab membesarkan lewat  pengembangan ide dan gagasan yang meng-akselerasi pertumbuhan kualitas layanan.  


B.  Mengenal 2 (dua) Sumber Kesejahteraan Dalam Ber-Koperasi
Kesejahteraan” selalu didefenisikan sebagai tujuan berkoperasi. Namun demikian, kesejehateraan dalam hal ini sesungguhnya mengandung makna sangat luas yang tidak terbatas dalam wujud materil (langsung maupun tidak langsung), tetapi juga bisa bersifat immateril. Dalam wujud materil yang bersifat langsung biasanya  dalam bentuk SHU (Sisa Hasil Usaha) yang dibagikan pada akhir tahun atau sesudah Rapat Anggota Tahunan (RAT).  Sementara itu, wujud materil tidak langsung bisa berwujud potongan harga khusus bagi anggota, tingkat jasa pinjaman yang murah dan lain sebagainya. Sementara itu, secara im-materil bisa mewujud dalam keterbangunan budaya hidup bijaksana dalam konsumsi sehingga terhindar dari konsumerisme ; perasaan kuat karena menjadi bagian dari satu komunitas koperasi; solidaritas & kesetiakawanan yang membangun budaya hidup gotong royong dan lain sebagainya. Pertanyaan menarik kemudian adalah, “Bagaimana koperasi menghadirkan kesejahteraan kepada segenap anggotanya?

Mereferensi pada paragram sebelumnya, maka kesejahteraan yang bisa diperoleh anggota dapat bersumber dari :
1.      Dirinya sendiri. Melalui penyelanggaraan pendidikan yang diselenggarakan koperasi dengan ragam variasi menu  (sesuai kebutuhan mayoritas anggota), maka anggota memiliki bekal yang cukup, baik dalam konteks menggunakan pendapatannya secara bijak maupun meningkatkan pendapatannya dengan cara-cara baru yang lebih mensejahterakan. Pada titik ini, pendidikan koperasi sukses meningkatkan kualitas pola hidup dari pribadi anggotanya.
2.      Aktvitas kolektif. Aktivitas kolektif yang dimaksud adalah ragam unit layanan yang dibangun berdasarkan kebutuhan mayoritas anggotanya, seperti penyelenggaraan simpan pinjam, toko swalayan, bengkel, toko saprodi, rice mill dan lain sebagainya. Disatu sisi penyelenggaraan ragam layanan ini bisa didorong menghasilkan SHU (baca: sisa Hasil Usaha) yang akan dibagikan langsung kepada anggotanya dan atau bisa juga didorong dengan semangat efisiensi kolektif sehingga anggota memperoleh ragam kebutuhannya dengan harga yang relatif lebih murah dibanding ketika anggota men-transaksikannya ditempat lain. 

Satu hal yang menjadi catatan penting, 2 (dua) sumber kesejahteraan itu men-syaratkan hal serupa, yaitu “setiap anggota harus bergerak”. Jika tidak, maka anggota tersebut tidak akan mendapat manfaat dari keikutsertaannya dalam koperasi. Inilah nalar yang membimbing pemahaman bahwa ber-koperasi adalah cara menolong diri sendiri (self help). Hal ini juga menegaskan bahwa ber-koperasi berbeda dengan aktivitas investasi yang cukup menanamkan sejumlah uang kemudian duduk manis dan menunggu hasil akhir. Pada koperasi, bagi mereka yang ingin mendapatkan manfaat, maka mereka harus bergerak. Bahkan, mereka yang memilih diam akan menjadi beban bagi yang bergerak. Intinya, semua harus bergerak dan akumulasi gerakan tersebut melahirkan sinergitas yang mendatangkan manfaat bagi yang terlibat.


C. Membangun Koperasi Yang Modern dan Sehat
 Kebersamaan dikoperasi mengenal isitilah distribusi peran yang saling menguatkan.  Artinya, setiap orang bergerak secara proporsional dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sinergitas ini selajutnya melahirkan bola salju manfaat yang terus tumbuhkembang sering dengan peningkatan kualitas dan kuantitas sinergi yang terbangun.

Untuk tujuan besar itu, pengelolaan koperasi secara organisasi dan perusahaan dituntut harus dinamis menyesuaikan dengan perkembangan dinamika hidup anggota dan juga sekitarnya. Modernisasi harus terus di up-date dalam rangka peyesuaian dan juga penjagaan terhadap manfaat yang bisa dirasakan oleh segenap anggotanya. Dengan demikian loyalitas anggota dibarengi dengan rasionalitas ragam layanan yang disajikan koperasi kepada anggota yang nota bene adalah pemilik dan sekaligus pelanggan. Jika rasioalitas tidak hadir pada unit-unit layanan perusahaan koperasi, maka lambat laun loyalitas pun tak bisa dijadikan alat pemaksa anggota untuk tetap menjadikan koperasi sebagai tempat primadona dalam memenuhi ragam kebutuhannya. Oleh karena itu, kombinasi cerdas perlu dilakukan. Penguatan spirit kebersamaan yang diikuti dengan penyatuan energi dan sumberdaya harus dilakukan dengan cara-cara kreatif dan inovatif dengan berpegang teguh pada prinsip efisien dan efektif demi menghasilkan  produktivitas yang men-sejahterakan.

Sebagai panduan, berikut ini disajikan faktor-faktor penting dalam membangun koperasi yang modern dan sehat, yaitu :
1.      Ketaatan terhadap regulasi. Sebagai sebuah organisasi & perusahaan yang berada di Indonesia, maka koperasi pun wajib mematuhi segala aturan atau kebijakan (regulasi) yang ada. Hal ini tidak saja menyangkut legalitas kelembagaan dalam bentuk badan hukum koperasi, tetapi juga diikuti kelengkapan legalitas atas aktivitas yang dijalankan oleh koperasi seperti HO, IMB, TDP, SIUP, Izin Operasional Simpan Pinjam dna lain sebagainya. Koperasipun wajib mentati  UU, PP, Permen, perpajakan dan lain sebagainya. 
2.      Pengembangan Berbasis Jati Diri Koperasi.  Jati Diri Koperasi memuat defenisi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi. Jati Diri Koperasi merupakan pembeda antara koperasi dengan badan usaha lainnya. Disamping itu, Jati Diri Koperasi juga merupakan sumber keunggulan koperasi dalam menjalankan organisasi dan perusahaannya. Untuk itu, Jati Diri koperasi harus dijadikan sebagai inspirasi dalam mengembangkan ragam strategi dan langkah menumbuhkembangkan koperasi. Jika Jati Diri Koperasi terabaikan, maka sulit mendapati praktek koperasi yang sehat dan berbeda dengan lainnya. Bahkan lebih buruk dari itu, koperasi terjebak berpraktek sebagaimana non-koperasi serta abai dengan anggotanya.
3.      Anggota.  Anggota merupakan asset terbesar koperasi sehinga perlu ditumbuhkebangkan secara kuantitas maupun kualitas. Dalam hal peningkatan kualitas, koperasi perlu menyelenggarakan pendidikan  untuk mendorong  optimalisasi partisipasi anggota. Secara kuantitas,  jumlah anggota juga perlu di tumbuhkan sehingga terjadi penguatan sumber daya dan potensi  yang membuat koperasi lebih bisa mengembangkan organisasi dan perusahaannya.  
4.      Profesionalisme Pengelolaan. Koperasi adalah kumpulan orang yang beragam dimana masing-masing memiliki kepentingan yang harus dikelola dengan tepat sehingga terbentuk sinergitas yang men-sejahterakan.  Perbedaan pandangan memerlukan kebijaksanaan sehingga terbangun iklim kondusif dan memberi daya dukung bagi tumbuhkembangnya kebersamaan. Cita-cita bersama pun perlu ditahapi secara berkelanjutan sehingga terwujud karya-karya bernilai manfaat nyata bagi anggota.  Oleh karena itu, profesionalisme pengelolaan menjadi satu kebutuhan. Profesionalisme menjadi jalan bagi mewujudnya tujuan, baik secara kolektif maupun bagi terbentuknya jalan berkembang bagi setiap anggota. Untuk prfesionalisme pengelolaan terbut, maka ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian antara lain : ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagaimana dijelaskan berikut ini:  
  1. taat azas subsidiari. Perusahaan koperasi itu bisa menyelenggarakan usaha apa saja sepanjang tidak bertentangan dengan hukum dan norma yang berlaku. Namun demikian, mendasarkan pada kebutuhan dan aspirasi mayoritas anggota adalah referensi paling ideal. Usaha-usaha koperasi yang lahir berdasarkan peluang dimana kepentingan langsung anggotanya minim, sesungguhnya beresiko dalam hal eksistensi dan keberlanjutannya. Disamping itu, dalam merumuskan jenis-jenis aktivitas produktif perusahaan koperasi, sebaiknya memperhatikan apa yang disebut dengan “azas subsidiari”. Azas subsidiari menekankan 2 (dua) hal penting, yaitu : (i) apa-apa yang bisa dikerjakan anggota sebaiknya tidak dikerjakan koperasi dan: (ii) apa-apa yang tidak bisa dikerjakan anggota, maka itulah yang sebaiknya di kerjakan oleh koperasi. Kalau diresapi secara mendalam, azas subsidiari mengandung pesan bijak dan semangat kebersamaan luar biasa, yang antara lain : (i) apa yang dikerjakan anggota tidak akan bertabrakan atau bersaing secara terbuka (face to face) dengan anggotanya sendiri; (ii) usaha-usaha  yang dikerjakan koperasi akan menjadi mesin penjawab bagi ragam kebutuhan dan aspirasi anggota; (iii) terbentuknya saling support antara apa yang dikerjakan anggota dengan apa yang dikerjakan koperasi. Dengan demikian, keseharian koperasi tidak akan berjarak dengan keseharian anggotanya. Disisi lain, adanya perasaan diperhatikan dan dilindungi oleh perusahaan koperasi, akan membuat setiap anggota menjadi loyal serta ikut menjaga keberlangsungan dan sekaligus mendorong akselerasi pertumbuhan dan perkembangan perusahaan koperasi. Hal yang paling kuat mendasarinya anggota untuk melakukannya adalah “kesadaran penuh” bahwa partisipasi atau kontribusi yang dilakukannya  tidak semata-mata hanya membesarkan perusahaan koperasi, tetapi juga membesarkan atau menolong dirinya sendiri (self help). Dengan kata lain, anggota menjadi besar bersama koperasi dan koperasi pun besar bersama anggotanya. Makna lainnya adalah betapa koperasi sangat bijak terhadap anggotanya dalam urusan persaingan usaha dan juga kesempatan berusaha. Bahkan dalam nalar yang lebih jauh dan visioner, koperasi bisa menjadi alat pemersatu dan sekaligus media penciptakan keadilan dan demokrasi ekonomi.       
  2. Roh Kelahiran. Roh kelahiran yang dimaksud adalah tujuan kelahiran sebuah aktivitas perusahaan koperasi. Hal ini menjadi begitu penting dirumuskan sebab berfungsi pedoman dalam  pengelolaannya. Sebagai contoh, ketika toko dimaksudkan untuk menyediakan layana kebutuhan anggota dengan harga yang lebih murah, maka kebijakan margin keuntungan cukup untuk membiaya operasionalnya. Demikian hal serupa kala salah satu roh simpan pinjam adalah mendorong laju tumbuh usaha yang dijalankan anggota, maka koperasi akan menyelenggarakan pinjaman dengan jasa rendah. Contoh-contoh roh tersebut mendorong adanya ketegasan dari berbagai pilihan dimana masing-masing pilihan memiliki konsekuensi. Artinya, kala koperasi lebih memilih untuk memperluas manfaat layanan bagi anggota, maka SHU menjadi tidak prioritas yang dikedepankan.
  3. Perencanaan komprehensif. Perencanaan diperlukan sebagai pemandu ragam aktivitas koperasi. Perencanaan juga berisi rangkuman ide-iide pengembangan yang akan dijalankan oleh koperasi. Dengan perencanaan komprehensif, maka terbentuk satu gambaran jelas tentang arah yang akan di tuju oleh organisasi dan perusahaan koperasi.  
  4. Pelibatan SDM yang expert/ahli/mahir di bidangnya. SDM merupakan kunci penting dalam membentuk keberhasilan. Mereka harus memiliki keahlian sesuai bidang tugas dan tanggungjawabnya. Disamping itu, integritas juga harus melekat pada setiap SDM sehingga setiap orang mendedikasikan dirinya secara penuh bagi tumbuhkembangnya manfaat yang bisa dirasakan seluruh elemen koperasi. Satu hal yang menjadi catatan, apresiasi terhadap SDM perlu menjadi perhatian sehingga mereka hidup layak dan meyakini bahwa di koperasi terdapat masa depan yang berpengharapan.
  5. Adaptif terhadap perubahan. Koperasi tidak lepas dari perubahan yang pasti datang, baik pada orang-orang yang ada didalam koperasi maupun lingkungan eksternal. Atas hal ini, adaptasi terhadap perubahan menjadi tuntutan agar bisa tetap eksis dan berkembang. 
  6. Berdaya saing. Perusahaan koperasi harus memiliki “nilai lebih” sehingga memiliki rasionalitas untuk dijadikan primadona bagi anggotanya. Untuk itu, koperasi harus terus ber-inovasi dan mengembangan kreativitas yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah yang membentuk keunggulan.
  7. Perform yang marketable. Perform yang marketable penting dibangun untuk membangun perwajahan yang layak. Suasana kekinian perlu tersaji pada organisasi dan perusahaan koperasi. Dengan demikian, kenyamanan dan dinamis membuat semua orang merasa bangga menjadi bagian dari koperasi. 
  8. Pelibatan IT (Informasi dan teknologi) secara efisien dan efektif. Kondisi saat ini menunjukkan perkembangan di bidang IT begitu cepat. Kemajuan IT tidak saja menghilangkan jarang dan mempersingkat waktu, tetapi IT juga menjadi sumber efisiensi dan efektivitas yang pada akhirnya berdampak pada lompatan produktivitas.  
  9. Pelaporan. Pelaporan adalah salah satu wujud transparansi yang merupakan bagian dari nilai-nilai yang terkonsep dalam Jatti Diri koperasi. Pelaporan bukan saja berfungsi untuk mencatat atau me-record aktivitas, tetapi juga sumber semangat bagi anggota untuk mengembangkan partisipasinya. Tersajinya rekam jejak anggota dan perjalanan organisasi dan perusahaan koperasi akan efektif menjadi bahan evaluasi guna me-refresh spirit dan sekaligus menyusun langkah-langkah berikutnya.
  

D.  Orientasi Modernisasi dan Penyehatan Koperasi
Modernisasi koperasi bukanlah tindakan latah sebab semangat didalamnya adalah untuk membangun kemanfaatan berkoperasi bagi segenap unsur organisasinya. Modernisasi koperasi bukan saja pada sisi pengurus, pengawas dan pengelola,, tetapi juga pada anggota sebagai subyek dan obyek pembangunan koperasi itu sendirii. Dengan demikian, modernisasi dan penyehatan koperasi akan mendorong setiap orang; (i)  berubah dari satu cara ke cara berikutnya dan; (ii) bergerak dari satu titik ke titik berikutnya.  

Modernisasi koperasi sesungguhnya kata lain dari upaya mendorong koperasi untuk kembali ke-khittohnya sebagai organisasi dan perusahaan yang memberdayakan, sebab hal itulah yang menjadi ciri khas dan sumber keunggulan koperasi. Dengan koperasi yang modern diyakini tidak saja akan membawa koperasi bisa bersanding dengan pelaku usaha lainnya, tetapi juga membawa koperasi bisa bersaing dam lebih unggul. 


E. Penutup
Koperasi perlu terus mengembangkan inovasi dan kreasi sehingga menjadi koperasi yang modern dan sehat dalam arti memberdayakan dan men-sejahterakan. Tahapan-tahapan perlu dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Pendekatan visioner harus dijadikan pilihan dan meninggalkan cara-cara instan yang miskin substansi. Pelibatan setiap unsur organisasi harus diarahkan pada optimalisasi peran sehingga setiap orang memilih ikut bergerak dan malu untuk diam dan atau hanya menunggu hasil akhir. 

Demikian tulisan ini disajikan sebagai bahan diskusi, semoga efektif meningkatkan semangat semua unsur organisasi meningkatkan efektivitas perannya dalam semangat kebersamaan yang selalu tumbuh dan berkembang. Amin Ya Robbal ‘Alamin.





Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments: