DISKUSI “MEMBANGUN KOTA KOPERASI” BERSAMA STAFF KHUSUS MENKOP

DISKUSI “MEMBANGUN KOTA KOPERASI”

A. Prolog

(Purwokerto, 06 Juli 2018).  Hari ini menjadi special bagi dunia gerakan koperasi di Kabupaten Banyumas, yaitu kedatangan Bapak Teguh Budiana, Staff Khusus Kemenkop dan juga pernah menjadi koordinator Majelis Pakar Dekopin Pusat. Kehadiran beliau ke kota kelahiran koperasi dalam rangka kunjungan kerja, namun dimanfaatkan menjadi nara sumber dalam agenda Kopdar (Kopidarat) yang diinisiiasi oleh Kopkun Institute (KI) dan didukung oleh Dekopinda Kabupaten Banyumas.

Hadir dalam agenda special ini gerakan koperasi dan juga para insan kampus. Dari gerakan koperasi hadir antara lain Kopkun, Kowapi Banyumas, Koperasi AMJ, Kopamas (Koperasi Pasar Manis),  CU Cikal Mas,  Kosuku Unsoed, KPRI NEU Banyumas, KPRI SEHAT RSMS, Kelompok Wanita Entreprenuer yang terhimpun dari Salimah dan lain sebagainya. Sementara itu, dari insan kampus hadir para mahasiswa dari Unsoed, UMP (Universitas Muhammadiyah), dosen pertanian Unsoed, dosen IAIN Purwokerto, dosen FEB Unsoed dan lain
sebagainya. Tak ketinggalan juga personal PLUT UMKM yang kebetulan juga bertindak sebagai tuan rumah untuk kesekian kali. Agenda ini juga menjadi semakin special dimana Mas Suroto yang merupakan salah satu tokoh muda koperasi nasional juga ikut hadir karena kebetulan sedang dipurwokerto.  

Hakekat agenda PKK sesungghunya upaya mencari titik komitmen bersama untuk secara agresif mengembangkan keanggotaan, karena dalah kumpulan orang. Kalau ini sudah berkembang, maka variabel-variabel lain akan ikut tumbuh kembang termasuk perusahaannya. Dalam lanjutannya kemudian akan digagas meng-akselerasi dan men-support setiap koperasi yang ingin meng-ekspanse kapasitas. PKK juga mendorong agar tidak terjadi persaingan antar koperasi tetapi justru mengembangkan kerjasama yang saling memperkuat, Ungkap Firdaus Putera, HC, Direktur Kopkun Institute yang lembaganya menggagas Ide PKK.




B.  Tentang Purwokerto Kota Koperasi
Purwokerto Kota Koperasi”, sebuah tema serius yang diusung oleh para kawan-kawan muda yang terhimpun dalam Kopkun Institute (KI). Dalam mimpinya tentang “membangun sebuah kota koperasi”, akan tumbuh koperasi-koperasi yang berprekatek dengan benar sesuai jati diri koperasi dan meminimalisir praktek koperasi abal-abal yang menggunakan payung koperasi untuk kepentingan ekonomi segelintir orang.  Mimpi ini kemudian di packaging dalam tagline PKK  (Purwokerto Kota Koperasi)

Beberapa indikator dari keterbangunan kota koperasi ini dijelaskan oleh Bu Novi, seorang Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Unsoed yang juga salah satu dari barisan pejuang KI, yang dalam Kopdar kali ini bertindak sebagai moderator, antara lain ; (i) 70% warga Banyumas menjadi anggota koperasi; (ii) 90% anggota koperasi memanfaatkan layanan usaha; (iii) 30% Warga Miskin terlayani; (iv) 10% warga miskin terentaskan; (v) dan lain sebagainya.

Segenap pejuang KI menyadari Ini merupakan perjuangan panjang dan memerlukan tahapan-tahapan keberlanjutan. Tahun 2017 juga adalah tahun I perjuangan menuju PKK dan target mewujud pada tahun  2022.


C. Tanggap dan dan Apresiasi  Pak Teguh Budiana
Pak Tgeuh Budiana, tertarik atas konsep kota koperasi yang di inisiasi oleh kawan2 koperasi di purwokerto. Hal ini sangat jarang dan bahkan belum terfikirkan membangun kota koperasi.  Bahkan, dalam banyak hal dan situasi,  koperasi sering termarginalkan. Ide pembangunan “kota koperasi” merupakan ide  genuine dan trlahir dari gerakan koperasi secara sadar.

Pemahaman dan komitmen dalam membangun koperasi di segenap unsur belum sama, sehingga koperasi menjadi lamban berkembangnya. Oleh karena itu, kaitannya dengan merealisasikan mimpi membangun kota koperasi, perlu melakukan komunikasi intensif sehingga terbangun persepsi bersama, semangat serupa dan aksi keberpihakan disegenap unsur masyarakat, termasuk birokrasi pemerintahan dan legislatif sehingga lahir keputusan dan kebijakan politik daerah atas gagasan ini.

Kapitalisme dalam prakteknya telah mendorong untuk terjebak dalam lingkaran mekanisme pasar yang bermazhab free trade.  Dalam situasi ini, posisi koperasi menjadi dalam tanya besar. Kesan koperasi sampai detik ini masih identik dengan kemiskinan, bantuan pemerintah dan kesan lain yang kurang menggembirakan, sehingga menyebabkan citra koperasi semakin terpuruk.  Idealnya, dalam situasi serba sulit dan serba terhimpit, seharusnya “penyatuan energi dna sumber daya” dilakukan sehingga terbanglit

Untuk meng-akselerasi efektivitas, ide hebat ini harus di viralkan sehingga masyarakat memahami betul semangat yang ada dalam gerakan membangun kota koperasi

Kalau konsumen bersatu dan memiliki fanatisme, maka akan diperoleh manfaat yang luar biasa. Oleh karena itu, perlu banyaknya propagandis yang membuat masyarakat tidak tahu menjadi tahu tentang koperasi, yang belum menjadi anggota masuk menjadi anggota koperasi. Dengan demikian, kesadaran untuk bersatu dalam koperasi yang mendorong keberdayaan dan kemandirian kolektif yang akan men-sejahterakan segenap anggota. Sebagai satu catatan penting, “Kemanfaatan ekonomi menjadi anggota koperasi” adalah perangsang efektif dalam berkoperasi. Untuk itu, Koperasi harus membangun perusahaan produktif yang didalamnya terdapat efisiensi kolektif.


D.  Respon Peserta Diskusi
Respon audience yang hadir di sore ini sangat positif atas gagasan PKK (Purwokerto Kota Koperasi). Sebagai bagian dari gerakan koperasi, mereka juga siap mendukung dalam tindkan operasional, termasuk di koperasi masing-masing. Ada beberapa hal yang sempat ter-record seputar respon peserta, antara lain:
1.      Orang miskin bukan tidak ada kemauan, tetapi tidak ada jalan menjadi orang kaya”, statemen menarik yang disampaikan oleh Ibu Ida Nur Farida, salah satu dosen FEB Unsoed. Hal ini layak menjadi inspirasi dalam men-design materi-materi pendidikan anggota dan atau juga materi propaganda dalam mensukseskan mimpi besar PKK (Purwokerto Kota Koperasi). Satu hal lagi yang menjadi catatan dalam mengembangkan koperasi, masyarakat  sering bisa memproduksi tetapi sangat lemah dalam hal pemasaran.
2.      Pak Edo aktivis Kopamas (Koperasi Pedagang Pasar Manis) Purwokerto mengapresiasi ide PKK, namun bertanya tentang bagaimana cara membangun target-target kuantitatif yang tersaji dalam
3.      Ibu Yogi, ketua Kowapi (Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia) menyampaikan daya dukungnya atas gagasan Purwokerto Kota Koperasi.

4.      Pak Andi, Ketua Kopamas menyampaikan sangat setuju bilamana sisi simpan pinjam itu dikembangkan dengan konsep yang ter-integrasi satu sama lain. Dalam sektor riil juga perlu disinergikan sehingga melahirkan aksi-aksi kolektif yang saling menguntungkan dan  memperkuat satu sama lain.   
Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment