KETIKA AWAK KOPERASI MENGUASAI RUANG TUNGGU PESAWAT

KETIKA AWAK KOPERASI MENGUASAI RUANG TUNGGU PESAWAT
(SISI LAIN MENUJU KONGRES KOPERASI MAKASSAR)



Tulisan ini tersaji di ruang tunggu Bandara Ahmad Yani, Semarang.  Tulisan ini terinspirasi dari satu deretan kursi tunggu yang diisi oleh awak koperasi Propinsi Jawa Tengah dengan tujuan serupa, yaitu tempat Pegelaran Kongres Koperasi III, Kota Makassar.  Jadual penerbangan sama yang diserahkan panitia Kongres memberi peluang duduk bersama, bercengkrama dan menebar canda ala koperasi...walau hanya sekejap. Kenapa sekejap?


“Batilk Air Jurusan Jakarta dipersilahkan naik ke pesawat”, kalimat ini membuat sebagian besar beranjak menuju pesawat. Persepsi awal penulis pun terkoreksi, ternyata rombongan insan koperasi ini memeliki jurusan akhir sama yaitu makassar, tetapi menempuh route yang berbeda. Penulis yang merupakan delegasi Dekopinda Banyumas berserta delegasi Dekopinda Purbalingga  menempuh jalur Semarang-Surabaya-Makassar, sedangkan kelompok kedua menempuh jalur Semarang-Jakarta-Makassar. Perpisahan sementarapun terpaksa terjadi walau tanpa disertai dengan tangisan sebagaimana sering ditampilkan dalam sinetron melankolis.

 
Mungkin ini langkah awal yang kemudian menginspirasi mimpi jauh tentang perjuangan
koperasi. Kalau kali ini baru “ruang tunggu pesawat” yang dipenuhi oleh awak koperasi, mungkin ke depan yang perlu difikirkan adalah bagaimana pesawat-pesawat yang tangkring dan terbang dari satu bandara ke bandara lain adalah milik koperasi. Khayal? Utopis?

Semua itu hanya tentang “kemauan”, kemauan menyatukan energi dan sumber daya. Kebersamaan seharusnya menjadi inspirasi untuk membentuk lompatan kemampuan melakukan apa saja sebab didalamnya terdapat gotong royong dan distribusi peran saling memperkuat. Illustrasi sederhana saja, sebuah beban pasti tersa begitu berat ketika dipikul hanya satu orang, tetapi menjadi terasa begitu ringan ketika puluhan, ratusan dan atau ribuan orang ikut memikulnya.

Tidak perlu pusing apakah sebuah koperasi bisa meng-operate sebuah pesawat. Juga tidak perlu takut tentang kemampuan me-manage bisnis penerbangan. Sebab, dua hal tersebut bisa diselesaikan dengan satu langkah, “serahkan pada ahlinya”. Artinya, insan-insan koperasi hanya perlu menyatukan komitmen, energi dan sumber daya sehingga ber-kemampuan me-modali pengadaan pesawat berikut kelengkapan yang diperlukan. Selanjutnya, para pemilik (baca anggota) mengambil posisi sebagai penumpang dengan harga yang lebih murah (baca: benefit) dan sekaligus pemilik yang memperoleh dan menikmati keuntungan (baca: profit) yang mayoritas bersumber dari hasil melayani market berstatus non-anggota.


So...Kalau saat ini awak koperasi hanya ber-status penumpang dan baru bisa memenuhi ruang tunggu, maka layak digagas meningkatkan statusnya menjadi pemilik. Kalau sudah memiliki, maka segenap insan koperasi pun bisa ikut mengendalikan, termasuk dalam urusan tarif, fasilitas penerbangan dan bahkan mengatur sebuah penerbangan apakah melalui transit atau tidak untuk mencapai satu titik destinasi. Dalam situasi ini, Insan koperasi tidak terus menerus menjadi obyek.  

Semua tergantung “kemauan” segenap insan koperasi melakukan tindakan-tindakan kolektif nan cerdas. Jika kemauan itu tidak pernah ada, maka mimpi tentang memiliki dan mengendalikan pesawat hanya sebuah asa yang tak akan  bertemu sandarannya.





Semarang,11 Juli 2017
Imajinas & Khayal Pagi Aktivis Koperasi 

Di ruang tunggu bandara Ahmad Yani, Semarang
Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment