MEN-THEMA-KAN EKONOMI NEGERI EKONOMI YANG BERDIKARI, BERDAULAT, ADIL dan MAKMUR

Disampaikan pada Seminar Nasional 
“Mewujudkan ekonomi negeri yang berdikari, berdaulat, adil dan makmur”, 
yang  diselenggarakan oleh Forum Nasional Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis Islam Se-Jateng-DIY, di Kampus IAIN, Purwokerto, 27 Oktober 2017


SINERGITAS PRODUKTIF NEGARA dan MASYARAKAT 
SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN EKONOMI NEGERI
 YANG BERDIKARI, BERDAULAT, ADIL dan MAKMUR
(Dalan Tinjauan Praktisi)


A. Pengantar
Ekonomi Negeri yang berdikari, berdaulat, adil dan makmur adalah bagian dari tujuan pembangunan nasional yang perwujudannya memerlukan partisipasi semua unsur. Semua harus mengambil peran dan tanggungjawab proporsional. Dengan kata lain, distribusi peran efektif menjadi kunci  penting dalam perwujudannya.

Hari ini, Indonesia  sedang berbenah di segala bidang. Agenda reformasi tengah berlangsung di semua bidang demi terbangunnya iklim kondusif dalam berbangsa dan bernegara. Ragam regulasi di tinjau ulang, UU dan peraturan-peraturan yang dinilai menghambat kemajuan direvisi dan bahkan tidak sedikit dibatalkan/dihilangkan.  Semua dilakukan demi terbangunnya iklim kondusif bagi terciptanya akselerasi pembangunan yang men-sejahterakan masyarakat

Disisi lain, masyarakat sebagai subyek dan sekaligus Obyek dari pembangunan juga harus ikut me-reformasi diri dalam arti terus berbenah. Masyarakay terus belajar  menjadi pribadi yang selalu berpihak dan melibat pada setiap upaya pembentukan keadaan yang lebih baik dan berpengharapan. Pada setiap orang perlu dibangunkan kesadaran untuk mandiri sehingga tidak menjadi beban orang lain. Setiap orang juga harus dibangunkan kemauan berbagi kesempatan sehingga terbuka peluang bagi siapapun untuk sejahtera.. Untuk itu, pada masyarakat perlu dtumbuhkan rasa ke-kita-an yang mendorong penyatuan potensi dan bakat  dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya dengan bijaksana. 
 
Sebagai bahan kontemplasi, Bapak Tjahyo Kumolo (Mendagri) dalam pidatonya saat membuka Jambore Kabngsaan dan wirausaha di Cibodas, Cianjur Jawa Barat, 25/10/2017, menyampaikan bahwa saat ini ada 4 (empat) tantangan besar mengadang bangsa, yaitu radikalisme dan terorisme ,narkoba, korupsi dan kesenjangan sosial. Keempat persoalan ini memang  demikian serius dan memiliki hubungan erat dengan pembangunan bangsa yang besar, termasuk dalam mewujudkan ekonomi negeri yang berdikari, berdaulat, adil dan makmur.
 

B. Sinergitas Sebagai Strategi Perwujudan
Semangat ke-Indonesiaan harus hadir pada semua pihak yang terlibat dalam proses pembangunan nasional. Kecintaan terhadap bangsa dan negara harus mewujud dalam sikap dan tindakan setaip orang sehingga terbuka peluang bagi mewujudnya ekonomi negeri yang adil, makmur dan santosa. Cita-cita besar itu hanya bisa mewujud apabila semua pihak mau bergandeng tangan dalam semangat persatuan yang didalamnya terbangun distribusi peran efektif.

Dalam hal ini, Sinergitas produktif menjadi pilihan terbaik dimana terbangun peran-peran yang saling terhubung dan bersifat saling menguatkan. Setiap peran dilakukan atas kesadaran penuh sebagai bagian dari mimpi besar sebuah bangsa. Semua orang harus merasa dirinya penting namaun jangan sampai tergoda berfikir lebih penting daripada lainnya. Setiap orang tidak boleh lagi asik dengan dirinya sendiri dan abai dengan orang lain yang mungkin merasa terganggu atau juga memerlukan kesempatan serupa atas pengelolaan sumber daya. Pola interaksi antar individupun sebaiknya bukan atas-bawah dan bukan pula superior-inferior, tetapi dalam kesetaraan (equality) yang diikuti kemauan bergandeng tangan dan saling memberi tauladan serta saling menguatkan. 

Sebagai stimulan, berikut dedeskripsikan peran-peran ideal pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembangunan::

B.1. Peran Negara  (Public Service; regulator dan empowering)
1. Terbentuknya regulasi dan kebijakan yang berpihak dan memberi peluang rakyat untuk sejahtera serta kendali kegiatan ekonomi tidak terpusat pada sekelompok orang saja.
2. Adanya regulasi yang memberikan perlindungan, keberpihakan dan peng-arus utamaan masayarakat banyak sehingga mendukung terciptanya pemerataan ber-usaha yang ber-ujung pada pemerataan pembangunan.
3. Membangun kepastian hukum dalam ber-ekonomi sehingga masyarakat merasa didukung dan termotivasi menjadi insan produktif.
4. Terbangun dan terjaganya keamanan yang mendatangkan kenyamanan dalam ber-ekonomi
5. Optimalisasi upaya pembangunan kualitas SDM Indonesia yang berkarakter. 
6. Terbangunnya iklim “kesempatan yang sama” dalam berusaha dan mengelola sumber daya.
7. Mengerapkan gaya kepemimpinan yang mendorong lahirnya percaya diri masyarakat untuk menggalli dan mengoptimalkan potensi dan bakat sebagai bekal untuk meng-optmalkan pengelolaan sumber daya alam (air, udara dan laut)
8. Dalam menjalankan fungsinya sebagai public service, negara bekerja untuk rakyat dan bukan rakyat yang bekerja untuk negara.
9. Membangun budaya apresiasi tinggi terhadap setiap inisiasi, inovasi  dan kreativitas masyarakat.
10. Negara perlu meng-intensifkan komunikasi dengan masyarakat sehingga negara  dipastikan hadir dalam setiap keresahan masyarakat.
11. Bergandeng tangan dengan pemuka agama untuk mendorong masyarakat memposisikan agama sebagai inspirasi menjadi insan produktif dalam kebijaksanaan berlandaskan ke-Tuhanan.
12. Meng-akselerasi tumbuhnya kewirausahaan baik secara kuantitas maupun kualitas.
13. Mendorong masyarakat menjadi pemain penting dan bukan jadi penononton apalagi menjadi buruh di negeri sendiri
14. Mendorong investasi berbasis pemberdayaan dan penyerapan tenaga kerja lokal. 
15. Fasilitasi berjangka yang  edukatif dan motivational demi akselerasi kemandirian masayarakat.
16. Membangun sederetan fakta yang mendatangkan keyakinan masyarakat bahwa pemerintah adalah tempat terbaik berkeluh kesah atas setiap hambatan dan keresahan dalam ber-ekonomi
17. Mendorong tumbuhkembang koperasi sebagai wadah masyarakat untuk bersatu membangun perekonomian, bersinergi dan membangun kemartabatan diri berbasis kebersamaan dan kegotongroyongan.


B.2. Peran Masyarakat
1. Membangun etos kerja tinggi dan menjadi insan produktif  sehingga tidak menjadi  beban bagi orang lain dan lingkungan.
2. Membangun kesadaran untuk meningkatkan kualitas diri sehingga memiliki komptensi diri, baik dalam konteks melahirkan karya maupun dalam konteks peningkatan daya saing di era ekonomi global. .
3. Melek IPTEK, cerdas mem-filter dinamika zaman dan memiliki kemampuan dalam men-drive perubahan. 
4. Mengembangkan inisiatif-inisiatif berbasis ke-swadayaan dan kegotongroyongan demi terbangunnya kemandirian kolektif.
5. Ikut mendukung tumbuhkembangnya investasi dan menghindarkan diri dari kepentingan sesaat  (menjadi spekulan) yang berpotensi menghambat laju investasi.
6. Ikut menjaga iklim kondusif, menghindarkan diri dari perbuatan yang berpotensi menciptakan permusuhan dan memecah belah persatuan.

B.3. Peran Organisasi Pelaku  Usaha
1. Optimalisasi organisasi sebagai media komunikasi sehingga persoalan yang menghambat tumbuhkembangnya iklim ber-usaha terdeteksi secara dini dan terkomunikasikan secara efektif.
2. Media peningkatan kualitas SDM dan juga perbaikan tata kelola usaha sesuai dengan bidangnya masing-masing
3. Media membangun jejaring untuk saling memperkuat dan meng-akselerasi tumbuhkembang.
4. Media penciptaan efisiensi kollektif melalui pembangunan kemitraan mutual diantara pelaku ekonomi.
5. Memposisikan regulasi dan kebijakan pemerintah sebagai referensi dan  sekaligus panduan dalam menyemarakkan dinamika usaha. 
6. Aktif memberi masukan dalam proses kelahiran regulasi dan juga aktif mengontrol jalannya regulasi. 

B.4. Peran  Universitas
1. Sebagai gudang ilmu yang menjadi rujukan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
2. Sebagai pusat kajian dan penelitian yang efektif menjadi inspirasi dan referensi. 
3. Sebagai pusat pengabdian yang efektif mendorong perubahan-perubahan di masyarakat kearah yang lebih baik. 
4. Sebagai tempat berkumpulnya orang2 cerdas dan orang-orang yang butuh pencerahan
5. Sebagai pusat kemajuan peradaban 

Sinergitas peran antar pelaku pembangunan sebagaimana dijelaskan diatas sangat diperlukan. Oleh karena itu, perlu dibangun chemistry dan frekeuensi serupa sehingga pembangunan ekonomi dapat diakselerasi.  Untuk itu, Intensitas komunikasi semua unsur sangat diperlukan sebab dipastikan mempercepat terbangunnya kesamaan persepsi dan memotivasi semua pihak untuk berpartisipasi. 

C. Menakar Potensi Peran Strategis Koperasi Dalam Membangun Ekonomi Berdikari, Berdaulat, adil dan makmur
C.1.   Konsepsi dasar Koperasi. 
Sebagaimana sejarah kelahiran koperasi pertama di dunia, koperasi merupakan alat perjuangan membangun peradaban yang lebih baik. Melalui kebersamaan dan kegotongroyongan, orang-orang yang terhimpun didalamnya melakukan penyatuan kepentingan. Juga dilakukan penggabungan sumberdaya sehingga terbangun kemampuan untuk menyelesaikan persoalan dan keresahan yang ada dilingkaran mereka. Selanjutnya, mereka membangun aktivitas-aktivitas produktif secara bertahap dan berkesinambungan.

Sementara itu, secara defenisi, “Koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial & budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama & mereka kendalikan secara demokratis” (ICA/International Cooperative Alliance;1995). Kalau disederhanakan,  koperasi merupakan kumpulan orang yang men-cerdaskan. Mereka berkumpul secara sukarela berlandaskan keyakinan bahwa bersama akan menjadi lebih kuat. Dalam hal ini, fokus koperasi sesungguhnya adalah membangun orang-orang didalamnya melalui pendidikan sehingga memiliki kemampuan dalam membangun kehidupannya yang lebih berkualitas secara ekonomi, sosial dan budaya. 

Sebagai satu catatan, lewat pegelaran pendidikan, segenap anggota koperasi diajarkan tentang filosopi koperasi (apa, mengapa dan bagaimana), tentang equality (kesetaraan) di keberagaman, tentang kebersamaan, tentang kerjasama, tentang cara berdemokrasi dalam organisasi dan juga ber-ekonomi dan lain sebagainya. Tidak sampai disitu, koperasi bahkan men-cerdaskan anggotanya agar lebih bijak dalam menggunakan pendapatannya dan juga meningkatkan pendapatannya. Jadi, inti fokus koperasi adalah “membangun kapasitas orang”. Dengan demikian, kesejahteraan yang didefenisikan sebagai tujuan, merupakan imbas dari efektivitas penyelenggaraan pendidikan.Dalam perspektif yang lebih luas, peningkatan kapasitas akan membangun kesadaran tentang kemanfaatan kebersamaan yang didalamnya hadir semangat saling asah, asih dan asuh. Hal ini lah yang menjadi alasan logis menempatkan koperasi sebagai alat pemersatu.

Di koperasi, orang-orang berinteraksi dalam kesetaraan (equality) tanpa memandang latar belakang sosial, gender, agama dan bahkan warna politik. Mereka duduk bersama membincang ragam persoalan, keresahan yang tengah dihadapi dan bahkan harapan yang mungkin digapai melalui kebersamaan. Mereka bertukar fikir untuk mencari solusi melalui penyatuan energi dan sumber daya. Setelah terkonsep, mereka berbagi peran satu sama lain. Lewat cara ini, mereka membangun kemandirian berbasis kolektivitas dengan senantiasa mengusung semangat “dari,untuk dan oleh anggota”. 

C.2.   Ciri Perusahaan Koperasi.
Sebagai satu keunikan, perusahaan dalam koperasi diposisikan sebagai alat dan bukan tujuan. Hal ini bisa difahami mengingat kelahiran perusahaan didasarkan pada aspirasi mayoritas dari anggotanya. Artinya, ragam layanan yang disajikan merupakan refresentasi kebutuhan mayoritas. Bahkan, dalam proses merumuskan jenis aktivitas perusahaannya, koperasi meng-agungkan azas subsidiaritas yang menekankan pada 2 (dua) hal, yaitu : (i) apa yang bisa dikerjakan oleh anggota sebaiknya tidak dikerjakan oleh koperasi dan; (ii) apa yang tidak bisa dikerjakan oleh koperasi, itulah sebaiaknya yang dikerjakan koperasi.

Azas subsidiaritas ini merupakan kode etik dan sekaligus jaminan bahwa perusahaan koperasi tidak akan pernah bersaing “face to face” dengan usaha yang dijalankan oleh anggotanya. Azas subsidiaritasi ini pula yang mendorong adanya relevansi kuat antara apa yang dikerjakan koperasi dengan apa yang dikerjakan oleh anggota, sehingga terbangun kerjasama mutual yang terus menerus. Singkatnya, perusahaan koperasi diposisikan sebagai mesin penjawab kebutuhan anggota, baik dalam konteks pemenuhan kebutuhan konsumsi yang lebih efisien maupun dalam mendorong laju tumbuhkembang aktivitas produktif yang dijalankan oleh anggota secara individu. Pada titik ini, koperasi lekat dengan semangat pemberdayaan.     
 
C.3.  Sekilas Menilik Realitas Koperasi.
Realitas obyektif saat ini, koperasi memang belum seperti mimpi besarnya sebagai sokoguru ekonomi. Secara umum, hal ini dikarenakan banyak koperasi yang berpraktek layaknya non-koperasi,sehingga berjalan tanpa ruh koperasi dan bahkan terjebak pada putaran uang dan ambisi perolehan SHU (baca: laba).
Pada koperasi demikian, sulit didapati upaya-upaya pencerdasan anggota dan juga sulit didapati aktivitas-aktivitas pemberdayaan. Bahkan, tidak jarang anggota di eksploitasi untuk kebesaran perusahan koperasi. Namun demikian, tidak sedikit pula koperasi yang tetap setia dengan jati diri koperasi. Pada koperasi demikian, terlihat jelas bagaimana keseharian koperasi tidak berjarak dengan aktivitas dan keseharian anggotanya. Koperasi selalu hadir disetiap keresahan dan persoalan yang tengah dialami oleh anggotanya. Koperasi semacam inilah yang seharusnya didorong untuk tumbuhkembang sehingga rakyat memiliki peluang untuk lebih cerdas dalam ber-ekonomi. Lewat koperasi semacam ini pula,  koperasi memerankan sebagai sokoguru ekonomi menjadi sangat memungkinkan.

C.4. Relevansi Koperasi dan Pembangunan Ekonomi berdikari, Berdaulat, adil dan makmur.
Terlepas dari realitasnya, secara konsepsi koperasi merupakan media strategis dalam membangun ekonomi berdikari. Koperasi mendidik anggotanya untuk menjadi insan produktif dan merasa malu ketika menjadi beban bagi orang lain. Lewat pemberdayaan yang dilakukan koperasi, memberi peluang tumbuhnya wirausahawan baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini tidak saja berdampak pada terbangunnya karya-karya produktif, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan dan sekaligus menekan angka pengangguran. Lewat penyatuan potensi dan sumber daya, mendorong koperasi atau anggotanya berkemampuan mengoptimalkan potensi wilayah untuk kemakmuran bersama.
Dalam perspektif makro, optimalisasi koperasi memberi peluang untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri (baca: berdaulat). Untuk itu, semangat ber-koperasi di kalangan masyarakat sangat layak di mobilisasi, sebab semakin banyak yang menjadi bagian dari koperasi, akan semakin besar pula potensi sumber daya yang terhimpun. Artinya, semakin rekat ikatan pesatuan dan kesatuan masyarakat, akan semakin terbuka peluang mewujudkan kemandirian ekonomi berbasis kolektivitas.
Demikian juga halnya kesejahteraan dan kemakmuran akan hadir sebagai imbas dari terbangunnya insan-insan produktif yang tidak pernah berhenti berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk masa depannya, masa depan generasi berikutnya dan selalu peduli dengan masa depan bangsanya. 


D. Penutup
Ekonomi berdikari, Berdaulat, adil dan makmur adalah sesuatu yang wajib diperjuangkan secara bersama-sama melalui sinergitas produktif diantara segenap stake holder. Semua elemen perlu dibangun kesadarannya untuk mengambil inisiatif memberikan kontribusi terbaiknya agar terbangun akselerasi perwujudannya. Semangat ke-kita-an perlu di kedepankan agar setiap orang merasa ikut bertanggungjawab terhadap pembangun ekonomi nasional.

Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment