Membincang “Koperasi “ Bersama Bapak Subijakto Tjakrawerdaja.


Membincang “Koperasi “ Bersama Bapak Subijakto Tjakrawerdaja.

Hari Senin, 09 Juli 2018, menjadi hari istimewa Gerakan Koperasi Banyumas yang tergabung dalam Dekopinda Banyumas, khususnya KUD-KUD, sebab Bapak DR (HC) Subjikato Tjakrawedaja, Mentri Koperasi di Era 90-an  dan saat ini kebetulan juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Damandiri, Jakarta Bapak Subijakto hadir bersama puteranya, Bung Wirendra.  Sebenarnya, pertemuan ini tanpa di rencana sebelumnya, hanya mencoba untuk memanfaatkan kunjungan beliau ke kota mendoan ini untuk satu agenda. Namun,  setelah melakukan komunikasi dan lobbying, akhirnya beliau berkenan untuk menghadiri
pertemuan yang di inisiasi Dekopinda Kab.
Banyumas ini.  Akhirnya, pertemuan ini pun terlaksana di RM Mang Engking, Purwokerto.  

Pertemua ini dihadiri oleh beberapa gerakan koperasi di lingkungan Banyumas, antara lain : Pimpinan Dekopinda Kab. Banyumas, KUD Tani Maju, KUD Aris Banyumas,  KUD Kebasen, KUD Bumirejo Somagde, KUD Pekuncen, KUD Rukun Tani, KUD Mekar Tani, KPRI SEHAT RSMS, KPRI NEU RSU Banyumas dan Kopkun

Dalam prolog diskusinya, beliau menyatakan masih komitmen dengan gerakan koperasi di Indonesia. Dari sisi pengembangan pemikiran dan pengembangan model, beliau wujudkan bersama dengan Universitas Trilogi, Jakarta,
Disamping itu, beliau juga sedang membina puluhan koperasi di berbagai daerah di Indonesia. Berbagai model pun dikembangkan untuk di trial dan kalau sukses akan di replikasi ke daerah-daerah lainnya, antara lain smart farming dan program pengentasan kemiskinan.   setiap orang sejak lahir sampai mati harus diurus koperasi”, ungkap beliau.  

Beliau juga menjelaskan tentang ciri khas Koperasi di Indonesia. Awalnya, Bung Hatta belajar koperasi di eropa dan kemudian di bawa ke Indonesia. Koperasi di Indonesia, koperasi dibangun dengan faham pancasila,
faham sendiri di luar faham indiviudalisme dan kolektivisme. Secara ekstrim.Faham individualisme mengutamakan faham hak pribadi dan cuek dengan kepentingan orang lain. Faham kolektifisme mendorong kepemilikan bersama dan cenderung meniadakan hak individu. Faham pancasila menekankan faham kekeluargaan yang mengakui hak individu tetapi juga menyadari adanya hak orang lain dalam setiap hak individu.   Perbedaan dalam kesatuan dan kesatuan dalam perbedaan”, sebuah kalimat yang menggambarkan tentang faham pancasila.

Koperasi harus ikut dalam upaya mengentaskan kemiskinan, khususnya di pedesaan. Sebagai contoh, bila ada petani yang tidak memiliki sapi diupayakan bersama sehingga mereka punya sapi dan ikut berpartisipasi dalam beternak sapi. Koperasi harus berposisi di garda terdepan dalam mengawal desa dalam mensikapi globalisasi secara cerdas.  

Session Diskusi
Dalam session diskusi, beberapa hal tersampaikan dan menjadi bahan diskusi dan tukar fikir
1.        Pak Sunaryo
a.      Kami sangat berterima kasih atas perkenan Bapak Subijakto untuk menghadiri pertemuan walau bersifat dadakan  
b.      Alhamdulillah, saat ini KUD Aris terus bersemangat dan mengembangkan karya
2.        Mas Danan (Ketua KUD Rukun Tani, Cilongok)
a.      Biasanya penyakit KUD diawali apabila pengurus atau manager KUD secara individu menyelenggarakan usaha serupa dengan yang dilaksanakan oleh KUD.
b.      Koperas  memerlukan semacam Lembaga Penjamin Likuiditas  sehingga likuiditas koperasi lebih terjamin dan aktivitas usaha koperasi lebih terdukung.
3.        Bapak Sukirno (KUD Kebasen)
a.      Saat ini Banyak KUD sedang mengalami depresi, mati segan hidup keberatan.  
b.      Saat ini KUD Kebasen hanya bisa eksis di usaha PPOB
4.        Mas Sarwono ( KPRI NEU Banyumas)
a.      Beberapa tahun ini, NEU Banyumas sedang berjuang membangun toko swalayan di luar pagar RSU Banyumas. Hal ini sebagai bagian dari membangun kemandirian koperasi.  
b.      Kami sangat setuju dengan ide Mas Danan tentang lembaga penjamin likuiditas bagi seluruh koperasi di lingkungan Kab. Banyumas. Hal ini untuk mendukung koperasi untuk bisa melakukan investasi jangka panjang. Saat ini, koperasi-koperasi melakukan investasi jangka panjang dengan hutang jangka pendek.
c.       Kami juga siap dilibatkan bila koperasi-koperasi bergabung mendirikan DC ( Distribution Centre)
d.      Berkaitan dengan agenda pengentasan kemiskinan, NEU Banyumas belum menyentuh secara langsung, tetapi KPRI NEU sudah mengembangkan taman bacaan di lingkungan masyarakat sebagai bagian dari upaya pengentasan buta huruf.  
e.      Perlu ada regulasi yang mendorong koperasi itu tidak ekslusif sehingga terbuka pada semua lapisan masyarakat.
5.        Pak Tarso (KUD pekuncen)
a.      Pupuk dan jasa angkutan masih jalan walau mengalami penurunan dalam hal produktivitas.
b.      KUD Pekuncem juga masih terkait dengan persoalan KUT dan hal ini sangat mengganggu KUD dalam mengembangkan ragam program-program berikutnya.   

Atas semua hal yang disampaikan oleh gerakan koperasi Banyumas, Bapak  Subijakto berkomitmen untuk mencarikan solusi komprehensif dengan meng-optimalkan ragam akses yang memungkinkan di sinergikan. Kita juga perlu memperhatikan kelayakan dan skala koperasi sehingga memang layak di support

Di penghujung, Bapak Subijakto menegaskan, “Mewujudkan  arsitektur ekonomi rakyat tetap menjadi semangat perjuangan dalam memberdayakan koperasi dan ekonomi kerakyatan.  Koperasi harus kuat sehingga berkemampuan melindungi masyarakat (baca: angota). Ekonomi rakyat harus dihidupkan dan rakyat harus memiliki pekerjaan sehingga bisa hidup berkelanjutan. Charity (sumbangan) memang bisa menyelesaikan persoalan jangka pendek, tetapi belum bisa menjawab persoaaln jangka panjang. Untuk itu, perlu didorong koperasi berada di garda terdepan dan melindungi serta mendukung setiap upaya rakyat membangun kehidupannya”.

Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment