SARASEHAN “ PENGUATAN KOPERASI MENDORONG PERTUMBUHAN EKONOMI”


SARASEHAN “ PENGUATAN KOPERASI MENDORONG PERTUMBUHAN EKONOMI”

Panitia  HUT Koperasi ke-71 Tingkat Jawa tengah menggelar sarasehan di pendopo Bupati Pemalang, tepatnya Ba’da Jum’at, tgl 06 Juli 2018. Sarasehan ini  dihadiri oleh gerakan koperasi di lingkungan pemalang, Delegasi Kopma di lingkungan Jawa Tengah,  para pimpinan Dekopinda Kab/Kota  se-Provinsi Jawa Tengah. Sarasehan ini juga menghadirkan  3 (tiga) orang pemantik sarasehan, yaitu ; (i) Bapak Untung dari Deputi Kelembagaan Kementrian Koperasi dan UKM RI; (ii) Bapak Warsono selaku ketua Dekopinwil  dan; (iv)  M. Arsad Dalimunte dari Kopkun Institute  Purwokerto yang juga Ketua Dekopinda Kab. Banyumas.  “Penguatan Koperasi mendorong Pertumbuhan Ekonomi” menjadi tema yang diangkat dalam sarasehan ini.

Dalam sambutan tertulisnya,  Bupati Pemalang menyampaikan beberapa penegasannya tentang realitas koperasi yang antara lain :  (i) Lemahnya “Jati Diri Koperasi “; (ii) adanya  tekanan pasar yang mereduksi eksistensi koperasi; (iii) Regenerasi pengeurus/pengelola; (iii) Banyaknya praktek keliru dalam arti belom sesuai dengan semangat jati diri; (iv)  Semangat pembelajaran dan kemandirian  yang minim sehingga sering menggantungkan pada  bantuan pemerintah.
 
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah melaui  Kepala Dinas Koperasi & UKM Jawa Tengah, Ibu Ema, menyampaikan bahwa Perayaan HUT Koperasi ke-71 tingkat Prop Jawa Tengah kali ini di isi dengan berbagai agenda, antara lain:  (i) Jambore koperasi; (ii) Sarasehan; (iii) Pameran Koperasi; (iv) Koperasi  Peduli Anggota dalam bentuk aksi bedah rumah; (v) Pameran koperasi dan; (vi) pesta rakyat dalam wujud grebegan yang dilombakan bersamaan dengan pelaksanaan parade yang diikuti semua ferakan koperasi di lingkungan Jawa Tengah. Beliau juga menyampaikan rasa senangnya atas turunnya pajak untuk UMKM. “dari yang kita usulkan 0,25%, Alhamdulillah Presiden menetapkan penurunan Pajak final menjadi 0,5%.”, ungkap beliau, Berikutnya, sesuai araha Gubernur Jawa Tengah, persoalan “KUT” juga akan menjadi prioritas untuk akan dicarikan solusinya sehingga tidak menjadi faktor penghambat menumbuhkmebnagkan kembali KUD-kUD di Jawa Tengah.

Dalam pelaksanaannya, sarasehan dimulai dengan sosialisasi “hasil rumusan pemikiran peserta Jambore koperasi 2018 yang digelar di moga selama 2 (dua) hari” oleh perwakilan Tim Perumus, Bapak Bima Kartika, Sekretaris Dinkop & UKM Jateng.  Kemudian seluruh peserta sarasehan diminta tanggapan dan atau menambahkan gagasan-gagasan yang sekiranya dianggap perlu atau belum diakomodir.  Usai barisan peserta menyampaikan ragam gagasannya, kemudian giliran 3 (tiga) pemantik  memberikan tanggapan akhir.  

Dalam session tanggapan 3 (tiga) narasumber, dijelaskan secara singkat berikut ini:

Bapak Warsono Ketua Dekopinwil Prop. Jawa Tengah menyampaikan bahwa  Hasil permusan peserta jambore sudah me-refresentasikan perwajahan koperasi kita saat ini, khususnya di lingkungan Jawa Tengah. Kita perlu meningkatkan komitmen agar apa yang sudah dirumuskan menjadi referensi dan juga panduan dalam menumbuhkembangkan koperasi di wilayah masing-masing. Beliau juga menandaskan tentang perlunya koperasi beradaptasi dengan perubahan iklim usaha yang demikian cepat, jika tidak akan berpotensi pada kepunahan koperasi. Untuk itu, koperasi harus terus menggali dan melakukan pembaruan ide tanpa kehilangan jati dirinya sebagai koperasi

Bapak Muhammad Arsad Dalimunte, dalam tanggapannya menyampaikan beberapa hal, antara lain :
  • 1.      Apresiasi terhadap hasil rumusan yang secara umum berorientasi pada : (i) masukan konstruktif kepada pemerintah dan; (ii) masukan komprehensif kepada gerakan koperasi, Masukan-masukan ini men-stimulan imajinasi tentang koperasi yang lebih berpengharapan.
  • 2.      Perjalanan mengajarkan bahwa kebelum-majuan koperasi diawali faktor kurangnya keyakinan para pejuangnya. Hal ini didukung fakta bahwa mayoritas koperasi di urus samben.
  • 3.      Meningkatkan apresiasi dan minat masyarakat terhadap koperasi perlu dilakukan dengan cara smart yang mencerminkan kekinian “karakter masyarakat”, khususnya dalam hal menerima dan merespon sebuah tawaran gagasan, termasuk koperasi. Untuk itu, kemanfaatan nyata   (real benefit) dan kemanfaatan masa (futuristic value) perlu dikombinasi  sehingga masyarakat lebih mudah memahami koperasi  secara utuh dan tergerak untuk bergabung ke dalamnya.
  • 4.      Pendidikan anggota. Perlu membangun relevansi yang tegas  antara pegelaran pendidikan perkoperasian dengan pertumbuhan partisipasi anggota dan juga tumbuhkembang perusahaan koperasi.  Bila hal ini mewujud, maka pendidikan tidak dipandang sebagai biaya, akan tetapi sebagai investasi yang memberi dampak significant. Pada titik ini, pendidikan anggota akan dimaknai sebagai kebutuhan dan bukan sekedar menggugurkan kewajiban.
  • 5.      Pembangunan Kompetensi pengurus tidak saja ber-orientasi pada pembentukan atau peningkatan kemampuan pengelolaan koperasi tetapi juga pada pembangunan “kapasitas kepemimpinan”. Dengan demikian, dikoperasi akan berlangsung kepemimpinan   yang memberi jalan bagi optimalisasi bakat dan segenap potensi anggota. Hal ini juga akan menjadi bagian dari skenario regenerasi yang juga tengah menjadi persoalan serius di lingkungan koperasi.
  • 6.      Apresiasi terhadap kinerja para pejuang koperasi. Koperasi tidak saja wajib berbagi adil kepada anggotanya, tetapi juga perlu merumuskan pola apresiasi terhadap setiap kinerja sehingga meekat nilai- nilai edukasi dan motivasional. Adanya pola apresiasi yang baik akan memberi garis tegas komitmen koperasi dalam urusan apresiasi SDM. Bila ini mewujud, maka koperasi akan di gandrungi generasi muda berbakat untuk melibat.   
  • 7.      Tentang teknologi atau digitalisasi perlu memperhatikan efisiensi dan efektivitas bagi sebuah koperasi. Usaha kioperasi perlu didorong untuk masuk ke modernisasi pengelolaan, namun tatkala masuk ke ranah IT perlu dipastikan bahwa hal itu bukan karena latah, tetapi refresentasi kebutuhan dari kreativitas dan produktivitas yang tinggi.
  • 8.      Sepakat dengan adanya usulan peserta sarasehan tentang “akreditasi” atas layanan yang diselenggaran oleh koperasi. Hal ini juga menjadi modal strategis dalam membangun kemitraan sejajar dan mutual antara koperasi dan atau antara koperasi dengan pelaku ekonomi lainnya. Selama ini, kemitraan antar koperasi cenderung hanya berlangsung berdasar kepercayaan antar personal (personal guarrantee), maka dengan adanya standarisasi akan menggambarkan kualitas pengelolaan sebuah koperasi. Hal ini juga menjadi alat untuk meminimalisir resiko kemitraan koperasi sejak dini.
  • 9.      Orientasi Pengelolaan Perusahan Koperasi. Perlu ada ketegasan orientasi pengelolaan unit-unit layanan koperasi, apakah SHU Oriented ataukah Benefit Oriented. Penegasan ini perlu untuk menjadi alat evaluasi yang tegas atas pengelolaan koperasi. Sebagai sebuah saran, koperasi-koperasi yang menyelenggarakan unit layanan yang memenuhi kebutuhan keseharian anggota (seperti simpan pinjam, swalayan dan lain sebagainya), maka disarankan menggunakan pola benefit oriented sehingga terbentuk apa yang disebut efisiensi kolektif dan anggota mendapat harga yang lebih murah. Namun demikian, saat koperasi menyelenggarakan unit layanan yang fokus pada pangsa pasar non- anggota (seperti koperasi yang menjual gula kelapa hasil dari anggotanya yang pengrajin gula kelapa), maka koperasi di saranlan SHU Oriented. 2 (dua) orientasi tersebut hakekatnya adalah sama-sama meningkatkan kesejahteraan anggotanya.  


Sementara itu, Bapak Untung, Deputi Kelembagaan Kementrian Koperasi & UMKM RI, menandaskan bahwa Koperasi  beridiri diatas semangat kerjasama yang dilandaskan saling percaya. Fokus koperasi adalah tentang memberdayakan orang-orang yang terlibat didalamnya. Sejalan dengan itu dan juga memperhatiakan semangat konstitusi, maka pemernitah perlu melakukan program untuk men-stimulan tumbuhkembangnya perkoperasian di Indonesia. Pemerintah harus memeberikan bantuan edukatif dan motivasional agar koperasi bisa mendiri dalam menyelesaikan permasalah internalnya. Pemerintah juga harus mendorong lompatan kreativitas koperasi sehingga terbangun akselerasi, seperti  dalam hal  design,  akses permodalan, perluasan pasar, peningkatan kapasitas  SDM  (Sumber Daya Manusia) dan lain sebagainya.   Disamping itu, setiap regulasi  memiliki semangat untuk melayani dan mempermudah sehingga gairah koperasi di masyarakat terus tumbuh.  



Hasil-Hasil rumusan Peserta Jambore Yang menjadi bahasan Sarasehan



Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment