PENDIDIKAN ANGGOTA KOPERASI


MEN-TEMA-KAN “PENDIDIKAN ANGGOTA
Oleh : Muhammad Arsad Dalimunte,SE,Ak


A. PROLOG
Koperasi merupakan kumpulan orang yang mencerdaskan dan membahagiakan. Oleh karena itu, hakekat fokus perjuangan koperasi adalah membangun kapasitas orang-orang yang berhimpun di dalamnya. Hal ini sejalan dengan konsepsi koperasi yang menempatkan orang sebagai penentu dan uang sebagai alat bantu. Juga senada dengan penempatan anggota sebagai obyek dan sekaligus subyek pembangunan koperasi. Demikian halnya dalam proses pengambilan keputusan dalam koperasi dimana berlaku system one man one vote. Untuk itu. Langkah-langkah pencerdasan anggota perlu dilakukan sehingga memiliki kemampuan menjalankan peran idealnya. 

Disisi lain, koperasi menyelenggarakan aktivitas produktif yang terhimpun dalam bentuk perusahaan. Ragam unit layanan yang diselenggarakan koperasi untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan mayoritas anggotanya. Jadi, dalam kerangka juang besarnya membangun kebahagiaan anggota (baca: sejahtera), koperasi memposisikan perusahaan sebagai media atau alat atau sarana untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka defenisikan dan perjuangkan bersama. Sekali lagi, koperasi menempatkan perusahaan senagai alat dan bukan tujuan.  


B. KOPERASI MEMANG BEDA
Koperasi itu memilki “nilai beda” dibanding dengan bentuk perusahaan lain seperti  CV.PT , Firma dan lain sebagainya. Koperasi itu memang  juga perusahaan yang dalam pengelolaan juga mengenal istilah  produktivitas. Namun , produktivitas yang dimaksud tidak semata-mata tentang besaran selisih antara pendapatan dan biaya, tetapi juga bisa berupa nilai-nilai manfaat yang dirasakan oleh para pemilik yang biasa disebut  anggota. Semua tergantung anggota yang nota bene adalah pemilik yang  juga pelanggan. Melalui forum tertinggi Rapat Anggota, para pemilik (baca: anggota) itu  menyampaikan berbagai hal (seperti  aspirasi,  kebutuhan, persoalan & harapan)  yang kemudian di musyawarahkan untuk menjadi satu keputusan bersama. Keputusan- keputusan tersebut selanjutnya menjadi referensi pengurus dalam mengelola organisasi dan perusahaan.

Demikian- lah anggota menggunakan hak-nya dalam iklim demokrasi yang senantiasa terjaga.Lewat forum tertinggi itu, anggota bisa me-redefenisi tentang makna kesejahteraan yang ingin diraih. Jadi, ketika “jasa/margin pinjaman” yang rendah didefenisikan sebagai bentuk kesejahteraan, maka perolehan SHU pun tidak menjadi prioritas lagi. Hal serupa bisa terjadi pada unit layanan toko/swalayan koperasi dimana besarnya perolehan SHU  bisa tidak menjadi prioritas kala fokus anggota adalah  berbelanja kebutuhan dengan harga murah.  Inilah salah satu contoh keunikan perusahaan koperasi dimana anggota berposisi sebagai pemilik dan juga pelanggan.


C. BERMULA DARI KUMPULAN ORANG
Koperasi adalah kumpulan orang yang equal (setara) tanpa membedakan gender, strata sosial, suku, ras, agama dan bahkan warna politik. Mereka bergabung secara sukarela. Mereka meyakini bahwa bergabung ke dalam koperasi akan memperkuat diri dan juga memperoleh ragam manfaat, baik materil atau immateril. Pada setiap orang yang bergabung dibangunkan pemahaman dan kesadaran bahwa “nilai tambah” hanya mewujud bila setiap anggota ikut mengambil peran proporsional dalam proses perwujudannya. Anggota juga dibangunkan pemahaman bahwa penyatuan komitmen, penggabungan potensi dan sumber daya adalah muasal kemampuan koperasi bergerak membentuk capaian-capaian yang pada akhirnya membahagiakan para anggota. Nalar semacam ini menjadi penegas bahwa koperasi berbeda dengan lembaga investasi yang cukup meletakkan sejumlah uang dan kemudian duduk manis menunggu hasil akhir. Pada koperasi, setiap anggota sudah mulai disertakan sejak perencanaan sampai proses mewujudannya. Jadi, apapun dan seberapapun capaian koperasi merupakan buah kebersamaan  yang dalam prosesnya terdapat distribusi peran yang saling menguatkan  diantara semua unsur organisasi (baca: pengurus/pengelola, pengawas dan anggota). Simpulnya, koperasi itu akan memiliki capaian yang terus tumbuh apabila orang-orang yang berkumpul didalamnya memiliki kemauan dan kesadaran untuk mengambil tanggungjawab yang mewujud ke dalam partisipasi yang berkelanjutan. Sejalan dengan itu, maka idealnya aktivitas produktif koperasi me-refresentasikan aspirasi dan kebutuhan mayoritas anggota. Dengan demikian, setiap anggota bisa mendefenisikan kepentingannya dalam setiap tindakannya di koperasi. Dengan kata lain, setiap partisipasi anggota identik dengan aksi menolong diri sendiri (self help). Pertanyaan menariknya adalah apakah kesadaran anggota akan tumbuh dengan sendirinya? 

D. PENDIDIKAN SEBAGAI PINTU GERBANG KESADARAN
Kumpulan orang identik dengan keberagaman. Oleh karena itu, ketika koperasi menginginkan terbangunnya kemauan anggota untuk bergerak bersama secara proporsional, koperasi perlu menggelar pendidikan. Secara umum, pendidikan perkoperasian dimaksudkan untuk ;menyamakan persepsi; membangun semangat kebersamaan (baca: ke-kita-an); membijak dikeberagaman; men-doktrinkan nilai-nilai kejuangan hidup dalam ruang kebersamaan; merasionalkan ekspektasi; membangun semangat kemandirian; membentuk kesadaran baru guna mendorong migrasi perilaku hidup ke arah yang lebih produktif dan; lain sebagainya.

Mereferensi pada luasnya manfaat pendidikan, maka tidak berlebihan meng-identikkan pendidikan sebagai senjata ampuh  untuk membangun kesadaran anggota untuk menjalankan perannya secara maksimal.  Sejalan dengan itu, penyelenggaraan pendidikan merupakan sebuah kebutuhan sebab identik dengan investasi yang bernilai masa depan, baik bagi pribadi anggota maupun koperasi itu sendiri. Dengan kata lain, pendidikan juga adalah sumber pertahanan koperasi secara organisasi dan perusahaan.    


E.SEKILAS MENAKAR DAMPAK PENDIDIKAN
Efektivitas pendidikan terletak pada perubahan perilaku. Oleh karena itu, pendidikan perkoperasian perlu merancang thema-thema yang akan menghasilkan output dan outcome yang berpihak pada keterbangunan kapasitas dan perubahan perilaku anggota. Dengan demikian, efektivitas pendidikan akan linier dengan tumbuhkembang koperasi. 

Sebagai stimulan, berikut ini disajikan beberapa dampak positif yang menggambarkan efektivitas penyelenggaraan pendidikan kepada anggota:
1.        Effektivitas mendidik anggota tentang filosopi juang koperasi mengoreksi motif seseorang menjadi anggota sebatas agar bisa pinjam dan memperoleh SHU. 
2.        Efektivitas pendidikan koperasi tentang perlunya membangun kekerabatan dan semangat gotong royong melahirkan dampak luas terhadap kualitas kehidupan sosial masing-masing anggotanya.
3.        Efektivitas meng-edukasi tentang pengaruh “jumlah anggota” dengan “harga yang semakin murah” menggiring anggota menjadi agen yang menyuarakan pentingnya berkoperasi kepada orang-orang yang potensial menjadi anggota koperasi.
4.        Efektivitas pendidikan kewirausahaan membuat anggota memiliki semangat untuk menjadi insan produktif dan mandiri.
5.        Efektivitas mengajarkan “hidup hemat” berdampak pada pertumbuhan tabungan anggota di koperasi.
6.        Efektivitas mengajarkan perlunya menjadi “pribadi produktif” akan mendorong pertumbuhan pinjaman anggota di koperasi untuk mendukung usaha produktif yang diselenggarakan anggota secara pribadi.
7.        Efektivitas meng-edukasi perlunya “pemanfaatan pekarangan” membuat pengeluran anggota  menjadi lebih efisien.
8.        Dan lain sebagainya.  

F. KETIKA PENDIDIKAN “TERABAIKAN”
satu kalimat bijak berpesan,”amal tanpa ilmu bagai jalan di kegelapan dan ilmu tanpa amal bagai pohon tak berbuah”. Kalimat ini menggambarkan betapa ilmu begitu penting sebagai petunjuk dalam melakukan sesuatu. Demikian halnya dalam berkoperasi, bila seseorang menjadi anggota tanpa disertai ilmu pengetahuan yang cukup, maka anggota akan terjebak pada kekeliruan yang berkelanjutan. Fakta menunjukkan, banyak koperasi yang belum membekali anggotanya dengan ilmu perkoperasian. Penerimaan anggota hanya men-syaratkan KTP dan kesanggupan membayar simpanan pokok dan simpanan wajib. Setelahnya, anggpta tersebut memiliki hak atas pelayanan yang diselenggarakan koperasi. Tidak ada penjelasan tentang AD/ART, tidak ada peng-insformasian yang komprehensif tentang profile koperasinya, tidak ada suntikan motivasi dan nilai-nilai kebaikan kebersamaan dalam koperasi. Dampaknya, hubungan yang terbangun antara koperasi dan anggota cenderung hubungan transaksional minus ikatan emosional. Singkatnya, terjadi pembiaran motif pragmatisme “bisa hutang dan dapat SHU” pada kebanyakan anggota. Disisi lain, pola pengelolaan koperasi pun terjebak pada spirit corporate yang hanya mementingkan pertumbuhan modal dan SHU. Koperasi tidak berfikir lagi apakah pelayanan yang diberikan kepada anggota akan membuat hidup anggota menjadi lebih baik atau justru mendatangkan kesusahan baru.

Dalam iklim yang demikian, terlalu sulit berharap koperasi menjadi organisasi pemberdaya dan juga sulit menyaksikan koperasi yang memiliki concern dalam meng-akselerasi tumbuhkembang ekonomi kerakyatan dalam arti sesungguhnya. Akhirnya, “nilai beda” koperasi tidak tampak sama sekali di kesehariannya. Dalam tinjauan kelembagaan, badan hukum koperasi menjadi pembenar praktek-praktek ekonomi berbasis kepentingan segelintir orang saja (baca: kaum pemodal). 

G.MATRIX PENDIDIKAN & PELATIHAN KOPERASI (terlampir)


H.PENGHUJUNG
 Koperasi adalah pendidikan”, kalimat ini layak dijadikan sebagai kunci dalam meningkatkan kapasitas anggota dan sekaligus menumbuhkembangkan koperasi sehingga memiliki daya dukung bagi keterciptaan peningkatan kesejahteraan anggota.

Sejalan dengan itu, koperasi perlu terus mengembangkan materi dan metodologi pendidikan sehingga mengakselerasi peningkatan kapasitas anggota, tumbuhkembang organisasi dan perusahaan koperasi. Pada akhirnya, efektivitas koperasi sebagai media menolong diri sendiri (baca: self help) bagi anggota benar-benar mewujud. Pada titik ini, koperasi  sebagai organisasi pemberdaya terjustifikasi secara defacto.

Demikian tulisan ini disajikan, semoga bisa menjadi inspirasi untuk mewujudkan koperasi yang memiliki kemampuan memberdayakan anggotanya dalam arti luas. Aaamiin Ya robbal ‘Alamin.



Semarang, 13 Februari 2019
Penyusun,


Muhammad Arsad Dalimunte
Pembelajar yang terus berproses

 Lampiran
CONTOH MATRIX MATERI PENDIDIKAN & PELATIHAN KOPERASI
NO
OBYEK 

ANGGOTA
PENGURUS
PENGAWAS
A
UMUM



1.     Mengenal spirit koperasi
2.     Keberagaman dan kolektivitas dalam koperasi
3.     Jati diri koperasi
4.     Profile koperasi
5.     AD/ART
6.     Persus/peraturan khusus
7.     Membentuk efisiensi kolektif berbasis kebersamaan
8.     Tata cara pemanfaatan unit-unit layanan koperasi
9.     Mmebangun relevansi aktivitas koperasi dan aktivitas produktif anggota
10. Cara membaca laporan keuangan
11. Tata cara menghadiri dan memimpin Rapat Anggota
12. dsb
1. Pendalaman jati diri koperasi
2. Peraturan dan regulasi di lingkungan perkoperasian
3. Pendalaman AD/ART
4. Dasar-dasar manajemen perkoperasian
5. Dasar-dasar kepemimpinan
6. Dasar-dasar pemberdayaan dan pengelolaan potensi anggota
7.  Excelent Service 
8. Mengembangkan hubungan kelembagaan
9. Dan lain sebagainya
10.               dsb
1. Pendalaman jati diri koperasi
2. Peraturan dan regulasi di lingkungan perkoperasian
3. Pendalaman AD/ART
4. Pengawasan fungsional dan pengawasan melekat
5. Sistem pengendalian internal
6. Dasar-dasar audit
7. dsb
B
KHUSUS



1.     Menjadi pribadi produktif & mandiri
2.     Cerdas & bijak dalam ber-ekonomi
3.     Manajemen keuangan rumah tangga
4.     Kewirausahaan
5.     Pemanfaatan pekarangan secara produktif
6.     Cerdas mengelola lahan
7.     Brilian dalam berdagang
8.     Teknik mengelola usaha
9.     Memanfaatkan jejaring koperasi untuk kepentingan usaha produktif milik anggota
10. dsb 
1. Manajemen operasional usaha
2. Manajemen keuangan
3. Manajemen pemasaran
4. Manajemen personalia
5. Teknik menyusun laporan keuangan
6. Teknik korespondensi dan surat menyurat
7. Pembuatan laporan pertanggungjawaban
8. Membaca dan meng-intrepretasikan laporan keuangan
9. Perpajakan
10.      Membangun dan memaintenance jejaring usaha
11.      dsb

1.    Teknik Pengawasan kebijakan
2.    Teknik Pengawasan organisasi dna kelembagaan
3.    Teknik Pengawasan SDM dan kepersonaliaan
4.    Teknik Pengawasan usaha
5.    Teknik Pengawasan keuangan
6.    Teknik Pengawasan operasional
7.    Teknik menyusun laporan kepengawasan
8.    dsb

Catatan :
1.       Materi bisa diperkaya berdasarkan kepentingan anggota dan koperasi
2.       Metodologi perlu dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pendidikan  

Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment