MEN-SOAL CABAI SEBAGAI PENYUMBANG INFLASI


KETIKA CABAI PENYUMBANG INFLASI SIGNIFIKAN

Purwokerto, 25 September 2019. Hari ini, TPID (Tim Pengendalian Inflasi daerah)  Kab. Banyumas menyelengarakan rapat koordinasi di Ruang Rapat Setda Kab. Banyumas. Rapat diprolog oleh Bapak Wahyu, Kabag Perekonomian Kab. Banyumas dan dipimpin oleh Bagap Agus Chusaeni, pimpinan BI KPw Purwokerto. Hadir dalam agenda ini , anttara lain : Kadin Banyumas, BPS, BI, Bulog, Polres, OPD dilingkungan Pemkab, Migas, Assosiasi Perberasan Banyumas dan lain sebagainya.

Kemarau panjang yang diperkirakan sampai Nopember 2019 memerlukan antisipasi dampak yang mungkin ditimbulkan. Kekeringan yang nyata sebagai dampak kemarau panjang telah berdampak pada  produksi sehingga pasokan menjadi lamban ke masyarakat dan mendorong naiknya harga”, ungkap Pak Agus Chusaeni dalam presentasinya

Cabai merupakan harga yang sangat fluktuatif dan berpengaruh pada tingkat inflasi local dan juga nasional. Beberapa hal yang menjadi persoalan dalam komoditas ini, antara lain (i) Keterbatasan pemanfaatan tekologi pertanian; (ii) Gangguan ketersediaan stock pangan speanjang waktu dan; (iii) terdistribusinya produk keluar daerah sehingga mengganggu pasokan local.  Beberapa solusi yang direncanakan, antara lain : (i) mengatur pola tanam; (ii) penjajakan pengembangan aplikasi system informasi pertanian cabai terpadu; (iii) melaksanakan program lapak petani dan lain sebagainya”, ungkap Pak Agus Chusaeni.

Sebagai sebuah gagasan, di nilai perlu adanya BUMD yang focus menangani volatile food. Hal ini sebagai upaya sistematis dalam mengendalikan inflasi daerah. Hal ini sudah terwujud di DKI Jakarta dengan lahirnya “food station”. Adanya BUMD Pangan akan membuat hasil panen lebih terkendali termasuk dalam hal pengamanan kebutuhan lokal.

Kepala BPS Purwokerto menyampaikan bahwa Inflasi Bulan Agustus 0,42% dan bahan makanan sebagai penyumbang terbesar. Data BPS juga menunjukkan bahwa cabai merah dan rawit menjadi penyumbang signifikan terhadap inflasi. Namun demikian, harga cabai di Bulan September 2019 mulai mengalami penurunan. Sementara itu, Dinas Pertanian menyampaikan bahwa Kabupaten Banyumas bukan sentra komoditas cabai sehingga tidak bisa menentukan harga. Namun demikian, secara umum wilayah Banyumas memiliki 200 ha lahan yang ditanam komoditas cabai. Secara umum, hasil panen cukup memenuhi kebutuhan cabai. Bulog menyampaikan bahwa saat ini stock beras aman.

Kementrian Koordinator Bidang Perekonomia Republik Indonesia melalui Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan selaku Ketua Sekretariat TPIP meng-informasikan bahwa realisasi inflasi nasional pada Juli 2019 sebesar  2,36% (ytd) atau 3,32% (yoy) utamanaya disumbang oleh inflasi kelompok volatile food (VF).  Kelompok VF didorong oleh kenaikan harga komoditas cabai merah  dan cabai rawit.  Terbatsnya pasokan disebabkan oleh musim kemarau yang bersifat lebih tinggi  dan lebih lama serta berkurangnya luas tanam. Berdasarkan infrmasi Badan Ketahanan Pangan (BKP), produksi cabai nasional dibeberapa daerah produsen diperkirakan tetap terbatas sampai September 2019 dan berpotensi mendorong kenaikan harga lebih lanjut. Sejalan dengan persoalan tersebut, diupayakan langkah2 komprehensif yang antara lain sebagai berikut :
1.      Meng-intensifkan kembali gerakan tanam cabai di kantor2 instansi pemda maupun pemukiman masyarakat
2.      Melakukan pemetaan lokasi dan volume riil produksi cabai serta perbaikan kualitas prognosa produksi dan kebutuhan cabai di masing-masing daerah
3.      Mendorong agar pemenuhan pasokan cabai ke industry tidak secara langsung mengganggu pasokan di masyarakat.
4.      Memberikan pemahaman terus menerus untuk mengubah secara bertahap budaya konsumsi cabai seger ke cabai olahan atau produk turunan cabai.
5.      Hilirasiasi produk turunan cabai
6.      Dan lain sebagainya.
Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments: