KETIKA KETUA DEKOPINDA BANYUMAS TAK MERESPON LANGSUNG TANYA MAS SUROTO?

KETIKA KETUA DEKOPINDA BANYUMAS 
TAK MERESPON LANGSUNG TANYA MAS SUROTO?


Ketika Tanya Mengedepan
Tulisan ini diinspirasi oleh pertanyaan Mas Suroto yang dikenal sebagai tokoh muda koperasi yang revelosioner dan memiliki keberanian diatas rata-rata dalam mengungkapkan fikiran dan gagasannya. Saat tanya itu mengedepan, saya hanya tersenyum dan memilih tidak langsung menjawabnya. Namun, kalau boleh jujur pertanyaan itu terus mengisi kepala saya. Tanya itu beliau utarakan spontan sesaat setelah host RAT mempersilahkan  saya memberikan sambutan dalam kapasitas sebagai Ketua Dekopinda Banyumas di RAT Kopkun Purwokerto yang digelar secara online beberapa hari lalu tepatnya Hari Rabu, tanggal 23 Juli 2020 yang lalu.

Dengan nada setengah bercanda, beliau menanyakan “ini Dekopinda Banyumas versi mana nih?”. Tanya singkat ini tentu menggiringku pada keadaan dimana saat ini sedang terjadi dualisme kepemimpinan Dekopin di tingkat pusat pasca gelaran Munas Dekopin di Hotel Claro Kota Makasar, Sulawesi Selatan pada 11-14 Nopember 2019 lalu. Sejak saat itu, muncul 2 (dua) versi Pimpinan Dekopin untuk periode 2019-2024, yaitu; (i) versi yang menetapkan Bapak Nurdin Halid sebagai ketua Dekopin dan; (ii) Versi yang mendaulat Ibu DR.Sri Untari,SH. Sebagai Ketua Dekopin.

Keduanya meng-claim sebagai pimpinan Dekopin yang sah. Kedua kubu pun terus aktif meng-campaign keabsahannya diberbagai media mainstream dan tidak ketinggalan juga di medsos berikut argumentasi sisi hukum-nya. Ada keunikan tersendiri khususnya dinamika di lingkungan WA Group koperasi tanah air yang sepertinya juga dihuni oleh sebagaian dari orang-orang dari kedua kubu. Masing-masing pihak hanya men-share tulisan-tulisan yang bersumber dari media, namun tidak pernah berlangsung diskusi terbuka dalam group-group WA itu. Tampaknya, masing-masing pihak memilih “saling mempersilahkan” untuk men-share. Kalau pun ada beberapa penghuni group berkomentar, tidak pernah berlangsung sahut men-sahut dan atau berujung dengan diskusi serius yang berujung kesepakatan atau komitmen tertentu.

Adakah situasi ini me-refresentasikan kematangan dan kedewasaan ber-demokrasi para penghuni WA Group yang nota bene adalah pejuang, aktivias, pegiat dan atau pemerhati koperasi?. Ataukah memang konflik dualisme ini memang sama sekali dinilai tidak seksi?.   Atau memang mereka secara sadar abai dan kemudian memilih “menunggu” hasil akhir dari pertarungan dikarenakan  tak jarang  argument berujung sentimen?. Atau ”diam” adalah pilihan sikap terbijak diantara kerumitan memahami konflik yang tengah berlangsung sehingga khawatir terjebak pada fitnah fikir?. Ragam tanya yang selalu membenak ini pun tak kunjung menemukan jawaban yang valid.  Semoga saja sikap semacam ini bukan wujud apatis atau penandas lemahnya signifikansi peran  Dekopin terhadap dinamika keseharian koperasi.


Jawaban sesungguhnya atas tanya
Pada sebuah rapat pimpinan Dekopinda Banyumas dipenghujung Juni 2020, sempat mengedepan tanya serupa dari beberapa pengurus, ”kemanakah Dekopinda Banyumas berkiblat ditengah konflik ditingkat Dekopin Pusat?”.  Simpul pembahasannya berujung tidak berpihak pada A atau B, tetapi menunggu sikap resmi pemerintah saja. Kesimpulan inipun menjadi dasar pada pembuatan spanduk Hari Koperasi ke-73 yang tidak men-soal apakah memakai lambang angka 73 versi A atau B. Dekopinda Banyumas memutuskan untuk membuat spanduk dengan hanya mencantumkan "logo koperasi Indonesia" dan  mengusung thema “Tidak Berhenti Pada Satu Cara Menjadikan  Peluang Tumbuhkembang Koperasi Lebih Terbuka di Era Pandemi Covid-19”. Sikap inipun disampaikan oleh Ketua Dekopinda Banyumas dalam pidato singkatnya dalam acara "tasyakuran sederhan" bersama gerakan koperasi dan juga Dinakerkopukm Kab Banyumas di aula Dinakerkop pada tanggal 14 Juli 2020 yang lalu.

Hari ini tengah berlangsung dualisme kepemimpinan Dekopin dan mengundang kebingungan di daerah-daerah. Hal semacam ini bukan hal baru dan juga pernah terjadi beberapa tahun lalu. Dekopinda Banyumas memandang hal ini bagian dari dinamika yang saya yakini akan membuat gerakan koperasi menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Dekopinda Banyumas juga tidak memilih A atau B. Dekopinda Banyumas juga tidak ber-ide untuk melahirkan “poros tengah”, sebab hal itu hanya akan menambah kekisruhan dan memperumit keadaan. Dekopinda Banyumas focus terus berjuang dan mengajak seluruh gerakan koperasi di lingkungan Kab. Banyumas untuk terus concern mengembangkan ide yang kreatif dan inovatif agar koperasi semakin terasa manfaatnya bagi anggota dan masyarakat pada umumnya. Koperasi pertama lahir di kota Purwokerto ini dan kita punya tanggungjawab moril untuk terus meningkatkan pemahaman, apresiasi dan gairah masyarakat dalam ber-koperasi. Kita harus jadikan koperasi sebagai media untuk “membangun relasi social tanpa kelas” dan memampukan koperasi men-sejahterakan anggota dalam arti yang seluas-luasnya. Kita harus terus berjuang membangun ketauladanan fikir, sikap dan karya yang inspiratif dan mampu meng-energi lainnya untuk menciptakan kebaikan-kebaikan baru.  Kita sudah mencapai kemenangan simbolik saat Purwokerto dipercaya sebagai tuan rumah pegelaran puncak Harkopnas ke-72. Oleh karena itu, saatnya focus perjuangan berorientasi pada “keunggulan substansial” dimana koperasi-koperasi di Banyumas mampu ber-peran signifikan dalam memberdayakan ekonomi rakyat dan mewujudkan kontribusi yang terus meningkat dalam pembangunan ekonomi, social dan budaya, khususnya di  Kabupaten Banyumas. Saya faham kita sedang dihadapkan pada Pandemi Covid-19 dan saya pun menyadari bahwa perjuangan membangun koperasi yang baik dan inspiratif  masih jauh dari kata selesai. Namun demikian,  kita tidak boleh berhenti pada satu cara agar terus bisa survive, eksis dan bahkan tumbuhkembang. Disamping itu, kita perlu terus berdo’a dan menjaga niat ber-koperasi sebagai bagian dari upaya menjadi pribadi yang lebih bijak dan bermanfaat dimata manusia lainnya dan lebih mulia dihadapan Sang Pencipta, demikian inti pidato Ketua Dekopinda Banyumas, Bung Arsad Dalimunte pada agenda tasyakuran yang digelar secara sederhana dan menggunakan protokol Covid-19.             

Suatu ketika di minggu pertama Juli 2020,  beberapa kawan pejuang koperasi yang terhimpun dalam PPKL (Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan) di lingkungan Jawa Tengah sempat bertanya pada saya, “logo Harkopnas mana yang dipakai dan dipilih?’. Atas tanya itu, saya pun tidak mengarahkan pada A atau B, tetapi memberi saran untuk bertanya pada Dekopinda dan atau berkonsultasi dengan Dinas Koperasi di masing-masing daerah kerja. Kalau kemudian pada akhirnya mendapati pilihan yang beragam pada “pencantuman logo” di spanduk atau backdrof acara Harkop ke-73, saya pun hanya bisa tersenyum namun  tidak tergoda untuk menghitung pemakaian logo kubu mana yang lebih dominan. Alasannya sederhana, pilihan manapun harus dihormati dan  pilihan manapun yang mereka ambil sama-sama me-refresentasikan semangat ber-koperasi. Artinya, masa depan koperasi masih dan semakin berpengharapan di masa depan karena masih ada semangat  kuat untuk  selalu meng-gelorakan koperasi di negeri tercinta ini.  
Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment