MEMBINCANG “NO ONE IS LEFT BEHIND” DI HARKOP KE-73

MEMBINCANG  “NO ONE IS LEFT BEHIND” DI HARKOP KE-73

Siang ini, 20 Juli 2020, Dinas Koperasi & UKM Prov. Jawa Tengah  Jateng menggelar satu webinar yang diikuti sekitar 250-an peserta, mulai dari pemerhati, gerakan koperasi, Dekopinda dan Dekopinwil di lingkungan Provinsi Jawa Tengah.

Bertindak sebagai narasumber dalam webinas kali ini adalah Ibu Ema Rachmawati selaku Kepala Dinas Koperasi & UKM, Suroto dalam kapasitas selaku Ketua AKSES (Assosiasi Kader Sosio Ekonomi Strategis) dan Joko Tusyawan dari Koperasi Film “Kabelan Ngopi”.  Mbak Myra dari TVKU bertindak sebagai moderator.  Sementara itu, Bapak Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah bertindak selaku keynote speech.

Persoalan utama koperasi kita dilingkungan Jawa Tengah adalah berjaraknya “jati diri koperasi  dengan praktek”. Demikian Ibu Ema tegaskan dipermulaan presentasinya sebagai sebuah hasil reflektif dari perjalanan koperasi di lingkungan Jawa Tengah. Beberapa kebijakan juga dan regulasi juga dinilai membelenggu sehingga memerlukan penyesuaian agar koperasi lebih eksis di kekinian zaman. Tentang KUD, Ibu Ema menyarankan untuk melakukan refleksi dan keluar dari perkembangan yang lamban. KUD harus terbuka dan berbesar jiwa untuk di kritisi sehingga berpeluang maju dan memiliki kemampuan beradaptasi dengan kekinian zaman. Hari ini KUD harus bergerak secara mandiri sebab zaman telah berubah dan ragam fasilitas yang dulu pernah ada tidak mungkin lagi diterapkan saat ini. Ibu Ema juga mengapresiasi Mas Joko dengan koperasi film-nya. Beliau berharap Mas Joko terus menginspirasi anak muda dan generasi milenial dengan pendekatan-pendekatan kreatif.  

Sementara itu, Mas Suroto memulai presentasinya dengan menjelaskan koperasi sebagai makro ideology yang efektif membangun demokrasi ekonomi. Mas Suroto juga menjelaskan bahwa praktek koperasi hari ini berjarak dengan konsepsi idealnya sehingga memerlukan koreksi secara total. Mas Suroto juga mengungkapkan data hasil penelitian bahwa koperasi abal-abal yang ada di Indonesia sampai di angka70% sehingga masi sulit mengharapkan koperasi sebagai lembaga ekonomi yang memberdayakan sebagaimana cita-cita besarnya. Pada koperasi abal-abal, RAT seringkali dilaksanakan hanya formalitas untuk menggugurkan kewajibannya.  Kalau koperasi berjalan dalam koridornya sesuai nilai-nilai dan prinsip, Koperasi pasti efektif membangun ketahanan dan kedaulatan pangan.

Kehadiran Gubernur Jawa Tengah selaku keynote speech sangat mencerahkan. Dalam gaya khas yang hangat beliau menyapa semua peserta webinar diawal pidatonya. Selanjutnya beliau menyemangati dan mengajak segenap peserta webinar untuk senantiasa optimis dan terus berbenah agar semakin berkemampuan men-sejahterakan anggota-nya, mulai dari semakin memasifkan jati diri di keseharian koperasi, peningkatan kapasitas manajemen dan kepemimpinan. Beliau juga menegaskan bahwa koperasi harus berdiri diatas kemandiriannya dan tidak bergantung pada bantuan pemerintah (cq. Permodalan). Dipenghujung pidatonya, beliau mengkisahkan terkaget-kaget saat bertanya mengapa koperasi di korea begitu maju, sebab beliau memperoleh jawaban bahwa korea dulu belajar dan meniru KUD yang ada di Indonesia. “Sejalan dengan itu, kalau koperasi negara luar saja belajar pada Indonesia, seharusnya kita pun lebih bisa membangun koperasi yang maju dan keren”, ungkap beliau dipenghujung pidatonya.      


Menjelang penghujung, Bu Ema sekali lagi menegaskan perlunya koperasi memahami dan menjiwai jati diri koperasi dan menjadikannya sebagai referensi dalam menumbuhkembangkan koperasi. Pendidikan koperasi harus diberikan kepada anggota sehingga demokrasi di koperasi semakin berkualitas dan berdampak pada semakin mengakarnya koperasi secara kelembagaan dan semakin berkualitas unit-unit layanan yang dijalankannya. Sementara itu, Mas Suroto mengingatkan perlunya koperasi mengembangkan usaha berbasis kebutuhan anggotanya sehingga memiliki daya tahan dan peluang untuk terus berkembang.  

"No One is Left Behind" atau dalam terjemahan bebasnya “tidak ada satupun yang tertinggal”. Kalimat ini berpesan bahwa koperasi harus mampu memberdayakan anggotanya sehingga semua orang maju bersama dan tidak ada yang tertatih-tatih sendiri di belakang. Oleh karena itu, semangat saling tolong-menolong dan membudayakan hidup bergotong rotyong menjadi kuci sukses koperasi dalam mewujudkannya.



Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment