Menggagas Validasi Anggota KUD

 Menggagas Validasi  Anggota KUD


Inspirasi Tulisan

Kali ini redaktur blog Dekopinda Banyumas khusus meliput diskusi serius  antara Bapak M.Arsad Dalimunte selaku Ketua Dekopinda Kab. Banyumas dan Bapak H. Kuswandi,SH. Bapak H.Kuswandi merupakan tokoh koperasi banyumas. Disamping  lama menjadi ASN di lingkungan DInas Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM Kab. Banyumas dengan jabatan terakhir sebagai Kasie Pengawasan, beliau juga adalah ketua KPRI Sumber Makmur dan juga menjabat sebagai Ketua II PKP-RI Kab. Banyumas.


“Her-Registrasi Anggota KUD” menjadi tema bahasan yang mereka  perbincangkan. Diskusi berlangsung di Hotel Swiss Bellin, Kota Malang Jawa Timur, saat keduanya mengikuti “studi komparasi” KUD-KUD dan Koperasi Pertanian Kab. Banyumas di kota Malang. Tema ini relevan dengan upaya serius yang sedang dilaksanakan oleh Bidang Koperasi Dinakerkopukm Kab. Banyumas yang tengah intens mendorong revitalisasi KUD.


Secara eksklusif hasil diskusi itu disajikan dalam tulisan kali ini. Semoga bisa menjadi referensi bagi setiap KUD ditanah air dalam meng-agendakan revitalisasi.   



Prolog

Di zaman orde baru dulu ada program KUD Mandiri yang salah satu dari 13 kriterianya adalah memiliki  anggota KUD minimal minimal 25% dari jumlah penduduk di kecamatan dimana KUD itu berada. Maksud dari program ini adalah lebih me-massifkan koperasi ke seluruh negeri melalui KUD. Dengan jumlah anggota yang banyak, KUD akan menjadi mandiri diatas kekuatan anggotanya.  Ragam fasilitas pun di gelontorkan pemerintah untuk menrong keterwujudan kemandirian itu.  

 

Ketika era berganti dan kemudian satu persatu fasilitas dikurangi, KUD perlahan mengalami kemunduran dan bahkan banyak yang mengalami mati suri. Namun demikian, bagi KUD  yang memanfaatkan ragam keberpihakan kala itu disertai dengan penguatan kapasitas internalnya, perubahan kebijakan ini disertai dengan adaptasi yang brilian sehingga mampu tetap bertahan dan bahkan tumbuhkembang. Di lingkungan Kab. Banyumas, KUD Aris Banyumas, KUD Rukun Tani Cilongok dan KUD Bumirejo Somagede adalah contoh KUD yang sukses bertahan. Sementara itu, bagi KUD yang terlena pada kemudahan-kemudahan di waktu lampau dan alfa menguatkan kapasitas organisasinya, shock saat perubahan kebijakan berlangsung. Mereka tidak siap dengan perubahan dan belum mampu menemukan “jalan keluar” untuk tetap bertahan. Keadaan inilah yang kemudian menimbulkan deretan statistic kemunduran KUD. 


Di era reformasi ini, khusunya 5 (lima) tahun terakhir ini, muncul semangat untuk menghidupkan kembali KUD. Secara nasional thema ini di kemas dalam istilah “Revitalisasi KUD”. Semangat ini tidak saja hadir dari pemerintah, tetapi juga aktif disuarakan oleh gerakan koperasi yang terhimpun dalam Dekopin (Dewan Koperasi Indonesia daerah). Banyak yang sepakat bahwa KUD sangat strategis untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan dan juga sangat potensial untuk berkontribusi signifikan dalam men-sukseskan program kedaulatan pangan nasional. 


Sejalan dengan semangat itu, KUD-KUD pun mulai bergeliat lagi. Mereka mencoba bangkit dari tidur dan menata kembali kelembagaan dan usahanya. Berbagai fasilitasi dan motivasi terus di dorong oleh Pemerintah agar semangat KUD untuk bangkit kembali muncul dan menguat. Paradigma baru pun terus di campaign agar KUD tidak terobesesi ber-romatika ria dengan masa lampau dan mengingkan adanya failitas berlimpah layaknya dulu.  



Menggagas Revitalisasi KUD

Secara sederhana, revitalisasi KUD adalah upaya komprehensif mengembalikan nilai penting koperasi bagi pengembangan ekonomi rakyat (baca: anggota koperasi) melalui langkah-langkah konstruktif yang terkonsep dalam satu prototype komprehensif yang berisi strategi penguatan dan pengembangan organisasi/kelembagaan dan perusahaan koperasi. Oleh karena itu, ketika KUD menggangas revitalisasi, maka KUD harus membangun kemauan dan konsistensi serta kesinambungan berproses, karena memang membangun koperasi tidak bisa instan sebab yang dibangun dan diberdayakan sesungguhnya adalah orang-orang yang berhimpun didalamnya. Melalui pendidikan perkoperasian, diharapkan terbangun kemauan penguatan kebersamaan yang dilanjutkan dengan penggabungan sumber daya dan energy. Selanjutnya, kolektivitas dimobilisasi ke dalam aktivitas-aktivitas produktif yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan anggota dalam arti luas.


Dalam rangka menjalankan agenda revitalisasi, pemetaan kondisi eksisting (baca: kekinian) KUD menjadi mutlak diperlukan. Pemetaan yang dimaksud meliputi pemetaan kondisi organisasi/kelembagaan dan usaha (termasuk detail asset KUD yang masih ada). Dengan demikian, diperoleh informasi valid yang selanjutnya dijadikan sebagai bagian dari referensi penyusunan rencana strategi (renstra) KUD..    



Tentang Her-Registrasi Anggota  

Tulisan kali ini focus mengangkat tentang her-registrasi anggota sebagai bagian dari  langkah yang terkonsep konsep dalam renstra. Langkah ini dinilai penting mengingat koperasi itu berbasis anggota dan anggota adalah sumber kekuatan dans ekaligus inspirasi koperasi untuk bergerak. Apalagi dalam tinjauan konsepsi koperasi juga menempatkan anggota sebagai obyek dan sekaligus subyek pembangunan koperasi itu sendiri. 


Istilah “her-registrasi anggota” sering mengedepan ketika membincang revitalisasi. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan jumlah anggota valid yang kemudian dijadikan dasar untuk pemetaan potensi dasar KUD dalam revitalisasi. Apalagi, saat program KUD Mandiri di masa orde baru dijalankan pemerintah, ditengarai banyak anggota masyarakat yang tidak menyadari kalau dirinya terdaftar sebagai anggota. Hal ini bisa dinalar mengingat saat itu setiap KUD terobsesi memiliki jumlah anggota minimal 25% dari jumlah penduduk sehingga masuk dalam kategori KUD Mandiri.Kala itu, banyak KUD mentargetkan sukses meng-akses berbagai fasilitas pemerintah dimana salah satu persayaratannya adalah masuk dalam kategori KUD Mandiri.


Sejalan dengan “validasi keanggotaan” yang merupakan bagian dari langkah awal revitalisasi, maka secara konsepsi “her-regitrasi” dinilai penting. Hanya saja, langkah ini memerlukan pertimbangan yang matang sehingga tidak kontra-produktif terhadap tujuan utama revitalisasi koperasi itu sendiri. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan dijelaskan berikut ini :

  1. Konsekeuensi pengembalian simpanan. Dalam kondisi “catatan anggota” terarsip dengan rapi, maka langkah her-registrasi anggota harus memperhatikan kesiapan backup keuangan KUD. Sebab, saat anggota memilih untuk tidak melanjutkan keanggotaannya di KUD, maka KUD wajib mengembalikan simpanan anggota tersebut sejumlah yang tercatat dalam pembukuan.
  2. Jumlah Anggota adalah potensi trust pihak eksternal. Ketika KUD menjalin kemitraan dengan pihak eksternal, data keragaan anggota adalah salah satu “nilai jual” sebuah KUD. Jumlah anggota yang besar me-refresentasikan besarnya potensi pada KUD, baik potensi konsumsi maupun potensi produksi. Dengan kata lain, keragaan anggota yang besar mewakili banyaknya potensi yang sangat mungkin dimobilisasi oleh KUD yang bersangkutan. 
  3. Pemilihan waktu yang tepat. Dalam kondisi keuangan KUD sedang tidak stabil, sebaiknya lebih dulu focus membangun kapasitas usaha-usaha produktifnya melalui optimalisasi segala asset yang masih tersisa dan berpotensi di mobilisasi bagi akselerasi tumbuhkembang perusahaan koperasi. Penguatan perusahaan tidak saja meningkatkan kesejahteraan anggota jangka pendek, tetapi juga membangun harapan jangka panjang yang berkelanjutan. Untuk itu, tanpa mengurangi nilai urgensi langkah validasi anggota melalui her-registrasi, perlu pemilihan waktu yang tepat sehingga tidak kontra-produktif terhadap tujuan besar revitalisasi. 
  4. Pengklasifikasian anggota sebagai strategi antara. Sebagai kumpulan orang, maka semakin banyak orang yang berkumpul semakin besar pula peluang untuk berkembang. Alasannya sederhana saja, semakin banyak orang yang berkumpul maka semakin besar pula sumberdaya terakumulasi yang berdampak pada peningkatan kemampuan koperasi menyelenggarakan usaha-usaha produktif yang men-sejahterakan anggotanya. Oleh karena itu, andai saat ini  anggota KUD yang tercatatat masih banyak yang belum aktif berpartisipasi, maka focus meng-aktifkan mereka lebih berdampak positif bagi keberlangsungan koperasi ketimbang mengeluarkan mereka. Untuk itu, perlu upaya-upaya sistematis yang mengarah pada tumbuhkembangnya apresiasi dan“kepercayaan/trust” terhadap koperasi. Pada saat itu mewujud maka anggota akan lebih tertarik untuk aktif dan bangga sebagai anggota KUD.  Sejalan dengan itu, identifikasi tentang keaktifan anggota dalam berpartisipasi di koperasi perlu diidentifikasi ke dalam 3 (tiga) kelompok besar, yaitu; (i) anggota aktif; (ii) anggota kurang aktif dan; (iii) anggota tidak aktif. Pada anggota aktif diberikan ragam stimulant sehingga mereka lebih aktif dan bahkan menjadi agen KUD untuk memotivasi anggota yang kurang aktif dan tidak aktif menjadi aktif. Ketauladanan dan testimony para anggota aktif akan menjadi referensi sahih dan pembentukan nalar leberpihakan sehingga anggota tidak aktif tergerak untuk aktif. Stimulan itu bisa berupa perlakuan khusus, seperti discount berbelanja, voucher belanja gratis, pemberian bingkisan saat lebaran dan lain sebagainya. 
  5. Meng-efektifkan pendidikan. Secara konsepsi, koperasi adalah kumpulan orang yang mencerdaskan melalui pendidikan berkelanjutan. Lewat pendidikan, anggota akan memahami apa, mengapa dan bagaimana cara koperasi bekerja men-sejahterakan anggotanya. Lewat pendidikan, akan terbangun kesadaran bahwa kesejahteraan akan terbentuk hanya apabila setiap anggota berpartisipasi pada setiap aktivitas yang dijalankan koperasi. Pendidikan tidak harus tersaji dalam bentuk classing (baca: indoor), tetapi bisa dikemas secara kreatif dan bercita rasa kekinian sepanjang substansi terjaga dan efektivitas mewujud. Sebagai catatan, ketidakaktifan anggota bisa jadi karena kebelumtahuan tentang koperasi sehingga anggota belum bisa menyadari bahwa segala hal yang dikerjakan oleh koperasi sesungguhnya menolong diri mereka sendiri. 

Simpulnya, her-registrasi keanggotaan KUD adalah langkah penting untuk mem-validasi keanggotaan koperasi, namun pelaksanaannya perlu memperhatikan resiko terhadap stabilitas keuangan KUD, nilai jual KUD dihadapan pihak eksternal dan juga pemilihan waktu yang tepat. 


Info : berita terkait klik disini dan klik disini

Share on Google Plus

About Dekopinda Banyumas

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment